Key Discussion: Kemenko Pangan-WWF Indonesia dorong transformasi sawit berkelanjutan

Kemenko Pangan-WWF Indonesia dorong transformasi sawit berkelanjutan

Jakarta – Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan organisasi lingkungan global WWF Indonesia bekerja sama untuk mendorong pengelolaan kelapa sawit yang lebih baik, efisien, serta berkelanjutan. Upaya ini bertujuan memperkuat kemandirian pangan nasional, mengingat peran strategis Indonesia sebagai produsen utama minyak sawit dunia. Dialog Nasional Kemandirian Pangan 2026 menjadi platform untuk merumuskan langkah-langkah konkret dalam perbaikan tata kelola sektor sawit, dengan partisipasi berbagai pemangku kepentingan.

Upaya peningkatan produktivitas dan inklusivitas

Dalam penyataannya, Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan, Widiastuti, menegaskan bahwa peningkatan produksi harus diiringi penguatan sistem yang inklusif, transparan, serta akuntabel. Hal ini, menurutnya, penting untuk menjaga daya saing Indonesia di pasar global dan memastikan kesejahteraan para petani. Transformasi tata kelola, lanjut Widiastuti, harus berfokus pada optimisasi lahan, peran aktif petani swadaya, serta penerapan standar keberlanjutan nasional.

“Kita punya sumber daya dan skala yang besar. Yang diperlukan kini adalah tata kelola yang benar-benar inklusif serta sistem yang mampu menyesuaikan standar global tanpa merugikan petani kecil,” tuturnya.

Kendala utama yang dihadapi petani swadaya, dijelaskan Widiastuti, meliputi masalah legalitas lahan, keterbatasan akses ke bibit unggul dan pupuk, serta kesulitan dalam pembiayaan. Ia menekankan perlunya dukungan yang lebih kuat untuk meningkatkan produktivitas mereka.

Balancing produksi dengan pelestarian lingkungan

CEO WWF Indonesia, Aditya Bayunanda, menambahkan bahwa keseimbangan antara peningkatan produksi dan perlindungan lingkungan menjadi fokus utama. “Dengan pendampingan dan intensifikasi yang tepat, kita bisa tingkatkan hasil tanpa harus merambah lahan baru,” ujarnya. Menurutnya, pendekatan ini adalah kunci untuk mengurangi degradasi ekosistem dan menjaga keanekaragaman hayati.

“Penguatan kapasitas dan praktik budidaya yang lebih baik akan membuat standar global bukan tekanan, melainkan peluang,” kata Aditya.

Aditya menyoroti bahwa Indonesia saat ini menghasilkan sekitar 58% produksi minyak sawit global, dengan volume crude palm oil (CPO) berkisar 46–51,6 juta ton pada 2024–2025. Lahan sawit yang digunakan mencapai 16,83 juta hektare, dengan sekitar 40% dikelola oleh petani swadaya yang masih menghadapi tantangan dalam produktivitas dan dukungan.

Peran dialog nasional dalam rantai pasok

Dialog Nasional yang berlangsung pada Kamis (23/4) juga membahas dinamika rantai pasok sawit dari hulu hingga hilir. Topik ini mencakup kebijakan nasional hingga kondisi di lapangan. Forum ini diharapkan mendorong komitmen lintas sektor untuk mempercepat perubahan tata kelola sawit yang berkelanjutan dan inklusif. Langkah ini sejalan dengan visi pembangunan nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 serta Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *