New Policy: Penjelasan BI soal Rupiah Jatuh ke Atas Level Rp17 Ribu

Penjelasan BI Soal Rupiah Melemah di Atas Level Rp17 Ribu

Nilai tukar rupiah terus mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir, mencapai level di atas Rp17 ribuan. Pada Jumat (24/4), mata uang garuda diperdagangkan sekitar Rp17.229 per dolar AS. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Juli Budi Winantya, menjelaskan bahwa pelemahan tersebut dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik yang berlangsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran selama lebih dari sebulan terakhir.

Menurut Juli, perang antara pihak-pihak tersebut mendorong AS meningkatkan pengeluaran militer secara signifikan. Peningkatan biaya perang berdampak pada melebarnya defisit fiskal, yang kemudian meningkatkan imbal hasil obligasi AS. Dengan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi, arus modal cenderung berpindah dari negara berkembang ke negara dengan ekonomi stabil, termasuk AS. Hal ini, kata dia, menyebabkan dolar AS menguat terhadap hampir semua mata uang dunia, termasuk rupiah.

“Rentetan perang memang berdampak ke sektor keuangan, pergerakan arus modal dari negara berkembang ke AS menjadi lebih kencang, dampaknya apresiasi dolar,” ujarnya di Bandung.

Untuk mengurangi tekanan pada rupiah, Juli menyebut BI telah meningkatkan intervensi dalam pasar valas, baik di spot maupun forward. “Kebijakan terkait transaksi valas akan kita lakukan sebagai bentuk komitmen BI menjaga stabilitas rupiah,” tambahnya.

Sementara itu, ekonom senior Ryan Kiryanto mengatakan BI membutuhkan dukungan dari pihak lain, seperti pemerintah, untuk mempertahankan nilai tukar rupiah. Dukungan tersebut bisa berupa kebijakan pengendalian impor, seperti Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), yang saat ini sudah diterapkan. Namun, agar efektif, kebijakan tersebut harus dilaksanakan secara konsisten.

Kiryanto juga menyarankan pemerintah mendorong penggunaan bahan baku substitusi impor, terutama di sektor farmasi yang 90 persen bahan-bahannya berasal dari China dan India. Selain itu, ia menekankan pentingnya memperkuat koordinasi Komite Stabilisasi Sistem Keuangan (KSSK) agar keputusan dan pernyataan yang dikeluarkan lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

“BI dalam kondisi sekarang ini sudah mengerjakan yang jadi bagian dan tugasnya dalam menjaga rupiah. Tinggal otoritas lain juga harus kita dorong untuk melakukannya,” pungkas Kiryanto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *