Facing Challenges: Zulhas Sebut UMKM RI Bisa Suplai Makanan Siap Saji untuk Jemaah Haji

Zulhas Sebut UMKM RI Bisa Suplai Makanan Siap Saji untuk Jemaah Haji

Dalam sebuah konferensi pers di Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (21/4), Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau dikenal sebagai Zulhas, menyampaikan bahwa pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia kini mampu memasok makanan siap saji bagi jemaah haji di Arab Saudi.

“Sekarang sudah ada makanan siap saji yang fresh, saya baru tahu. Istilahnya itu RTE (ready to eat), kalau kita kan masak dulu. Bahkan ada juga bawa bumbu, kirim bumbu ya, yang bumbu kalau masak terus kasih bumbu jadi langsung jadi,” ujarnya.

Zulhas menjelaskan bahwa pengembangan produk makanan siap saji ini menjadi bagian dari upaya agar kebutuhan konsumsi jemaah haji dapat dipenuhi dari dalam negeri. Menurutnya, kemampuan tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibanding masa sebelumnya, meski masih ada beberapa kendala teknis.

“Termasuk tadi UMKM kita banyak yang sudah mensuplai makanan kepada jemaah haji kita. Walaupun kadang-kadang masih ada kendala di sini, belum sempurna, tetapi sudah jauh lebih maju dibanding sebelum-sebelumnya,” tambahnya.

Di sisi lain, Zulhas memastikan bahwa makanan untuk jemaah haji tetap aman meski situasi geopolitik global sedang tidak stabil. Ia menegaskan bahwa stok pangan nasional masih mencukupi untuk mendukung kebutuhan tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf mengungkapkan bahwa layanan konsumsi bagi jemaah haji tetap berjalan normal, tidak terpengaruh oleh kenaikan harga global.

“Tidak ada (dampak dari harga global). Pihak-pihak katering juga tidak meminta perubahan harga, tapi kita melihat bahwa pasar lokal di sana memang mengalami fluktuasi. Mudah-mudahan hal itu tidak memengaruhi kualitas makanan jemaah,” kata Irfan.

Ia menjelaskan bahwa sebagian besar makanan jemaah tetap disiapkan melalui dapur katering di Arab Saudi. Namun, pada periode tertentu, makanan siap saji atau RTE juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan.

“Itu hanya untuk RTE, yaitu pada tanggal 7, 8, 9 sampai 13. Karena waktu itu trafik sangat padat, sehingga makanan segar susah dikirim, maka kita pakai RTE,” ujarnya.

Menurut Irfan, penggunaan RTE difokuskan pada fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), saat distribusi makanan segar menjadi lebih sulit karena mobilitas jemaah yang tinggi. Produk tersebut disiapkan dalam jumlah besar untuk menjaga kebutuhan konsumsi tetap terpenuhi.

Dengan skema ini, pemerintah memadukan suplai makanan dari dapur katering lokal di Arab Saudi dengan makanan siap saji yang diirim dari Indonesia.

Selain itu, pemerintah telah meneken nota kesepahaman (MoU) dengan Menteri Perdagangan Arab Saudi, Majid bin Abdullah Al Qasabi, yang membuka akses lebih luas bagi pengiriman makanan dari Indonesia.

“Kemudian Menteri Perdagangan (Budi Santoso) tadi sudah berhasil MoU dengan Menteri Perdagangan Arab Saudi. Kita bisa mengirim makanan ke jemaah kita bebas, memberi makanan ke jemaah kita bebas, tidak dipersulit lagi dari Arab Saudinya,” katanya.

Zulhas menambahkan bahwa pengiriman makanan siap saji ini memiliki batasan, yakni hanya untuk konsumsi jemaah Indonesia dan tidak untuk diperjualbelikan di pasar domestik Arab Saudi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *