Harga Kondom Terancam Naik 30 Persen Imbas Perang Iran

Harga Kondom Terancam Naik 30 Persen Imbas Perang Iran

Kondom bisa mengalami kenaikan harga signifikan akibat perang Iran melawan agresi AS dan Israel. Gangguan pada rantai pasok global, terutama bahan baku produksi, menjadi penyebab utama fluktuasi ini. Sebagai produsen utama, Karex mengatakan kondisi pasokan terganggu, sehingga perlu menyesuaikan tarif jual.

Kepala global minyak dan gas di KPMG, Angie Gildea, mengingatkan bahwa kenaikan harga energi juga memengaruhi belanja konsumen. Dalam wawancara dengan CNN, ia menyebut kekurangan pasokan minyak petrokimia lebih besar daripada dampak langsung terhadap harga bahan bakar.

Karex: Kenaikan Harga Tergantung Durasi Gangguan

Perusahaan berbasis di Malaysia ini memproduksi kondom, pelumas, dan berbagai produk lain seperti sarung tangan, kateter medis, serta pelindung probe. Produk mereka termasuk merek Durex, Trojan, ONE, Trustex, Carex, dan Pasante. Karex mampu menghasilkan lebih dari 5 miliar kondom per tahun, dengan ekspor ke lebih dari 130 negara.

“Situasinya sangat rapuh, harga mahal. Kami tidak punya pilihan selain membebankan biaya tersebut kepada pelanggan,” ujar Goh Miah Kiat, CEO Karex, kepada Reuters, Selasa (21/4).

Karenanya, kenaikan harga kondom diprediksi berkisar 20 hingga 30 persen, tergantung lamanya hambatan logistik. Goh menyebut sejumlah kondom terjebak di kapal, belum tiba di tujuan meski sangat dibutuhkan. Namun, ia menegaskan Karex masih memiliki stok untuk beberapa bulan ke depan.

Perang Iran juga mengganggu produksi bahan baku turunan minyak, seperti nafta, minyak silikon, dan amonia. Nafta, misalnya, merupakan komponen kritis dalam pembuatan plastik, yang menjadi bahan utama kondom. Sebanyak 41 persen pasokan nafta di Asia berasal dari Timur Tengah. Jika akses ke bahan baku terhambat, produsen seperti Karex harus menaikkan biaya untuk mempertahankan operasional.

Fluktuasi harga minyak dan gas terus terjadi seiring perang yang berlangsung. Kekurangan pasokan minyak bisa menghambat produksi, terutama di Asia yang bergantung pada suplai dari wilayah tersebut. Para ekonom mengkhawatirkan dampaknya terhadap daya beli masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *