Solving Problems: 5 Pernyataan JK soal ‘Mati Syahid’ hingga Ijazah Jokowi, Singgung Termul
JK Jawab Isu ‘Mati Syahid’ dan Ijazah Jokowi, Singgung Konflik Agama
Wakil Presiden (Wapres) ke-10 dan ke-12 Indonesia, Jusuf Kalla, menghadiri konferensi pers untuk merespons sejumlah pertanyaan yang belakangan mencuatkan namanya. Dalam kesempatan itu, JK membahas ceramahnya tentang konsep ‘mati syahid’ yang disampaikan di Universitas Gadjah Mada (UGM), serta isu terkait ijazah Presiden ketujuh, Joko Widodo.
Latar Belakang Pelaporan
Video potongan ceramah JK tentang ‘mati syahid’ telah dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI). Laporan tersebut memiliki nomor registrasi LP/B/2547/IV/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA, terdaftar pada 12 April 2026.
“Kami dari GAMKI tadi datang untuk melaporkan Bapak Jusuf Kalla. Kehadiran kami juga mewakili sekitar 19 organisasi Kristen dan masyarakat,” ujar Ketua Umum GAMKI Sahat Martin Philip Sinurat, kepada wartawan, seperti dikutip Senin (13/4).
Penjelasan JK tentang Konteks Pernyataan
JK menegaskan bahwa ceramahnya pada 18 April 2026, di Brawijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dijelaskan dalam konteks konflik di Poso dan Ambon. Ia menekankan bahwa pernyataannya tidak bertujuan menyinggung kelompok umat Islam-Kristen secara langsung.
“Cuma satu-dua menit saya bicara konflik karena agama, seperti di Ambon-Poso. Saya tidak menyebutkan dogma agama,” ujarnya.
Konteks Konflik dan Penggunaan Istilah
Dalam ceramah tersebut, JK menjelaskan bagaimana konflik bisa berujung pada kekerasan, termasuk yang melibatkan perbedaan agama. Ia menyatakan bahwa banyak pihak menggunakan ajaran agama sebagai dasar untuk membenarkan tindakan kekerasan.
“Saya gunakan kata syahid karena berada di lingkungan masjid. Jika menggunakan martir, jemaah mungkin tidak paham. Meski maknanya hampir sama, yaitu mati karena membela agama,” tambah JK.
JK: Agama Tidak Boleh Menjadi Alat Perpecahan
JK menegaskan bahwa baik dalam Islam maupun Kristen, tidak ada ajaran yang membenarkan saling membunuh. Ia juga mengingatkan bahwa konflik di Ambon dan Poso mengakibatkan ribuan korban jiwa dan ratusan ribu pengungsi.
“Sekitar 7.000 orang meninggal dalam tiga tahun. Konflik itu membawa-bawa agama, tapi tidak ada ajaran yang mengizinkan pembunuhan,” katanya.
Upaya Mendamaikan dan Harapan untuk Konteks Lengkap
JK menyatakan bahwa tujuan ceramahnya adalah mengingatkan agar agama tidak dijadikan alat perpecahan. Ia mengaku turun langsung ke daerah konflik untuk memediasi perbedaan pihak.
“Saya datang untuk mendamaikan, bukan memecah. Saya pertaruhkan jiwa saya,” ujarnya.
JK Buka Peluang Jalur Hukum, Namun Tak Buru-buru
JK mengatakan bahwa dirinya sedang mempertimbangkan tindakan hukum terkait tudingan penistaan agama yang diarahkan kepadanya. Meski demikian, ia menekankan bahwa langkah tersebut masih dalam proses evaluasi.
“Kasih tahu mereka semua, orang yang berbicara besar, apa yang mereka lakukan sekarang. Kita akan lihat perkembangannya, karena jika tidak dituntut, ini bisa terulang lagi,” tegas JK.
JK juga menilai tuduhan terhadapnya sebagai upaya fitnah. Ia mengakui bahwa telah banyak masyarakat yang bersedia melaporkan isu tersebut, dan ingin menunggu perkembangan sebelum menetapkan langkah lebih lanjut.
“Saya sendiri berharap Tuhan mengampuni mereka,” ucapnya.