Key Issue: Ekonom tekankan pentingnya ketahanan bahan baku plastik guna jaga UMKM
EKONOM TEKANKAN PENTINGNYA KETAHANAN BAHAN BAKU PLASTIK GUNA JAGA UMKM
Ketergantungan Industri Plastik pada Impor
Dalam wawancara di Jakarta, Rabu (15/4), Nailul Huda, direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), menyoroti peran kritis bahan baku plastik dalam menjaga kelangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ia menyebutkan bahwa sektor petrokimia, sebagai penghasil bahan baku utama plastik, sangat tergantung pada impor, khususnya dari kawasan Timur Tengah, yang mencapai sekitar 70 persen. Tantangan ini mengharuskan pemerintah dan industri bersiap menghadapi risiko yang mungkin mengancam produktivitas.
“Pada masa jangka pendek, memastikan ketersediaan bahan baku lokal sangat krusial untuk menstabilkan harga plastik. Jika tidak, biaya layanan di dalam negeri bisa meningkat hingga 30 persen. Industri laundry dan UMKM lainnya sangat rentan terhadap kenaikan harga ini,” ujar Nailul.
Pengaruh Perundingan Global
Ketidakpastian ekonomi global, terutama sektor perdagangan, dikaitkan dengan kegagalan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang memperpanjang ketegangan geopolitik. Akibatnya, harga minyak dan biaya perdagangan internasional cenderung naik, menurunkan daya saing industri plastik nasional.
“Salah satu dampak dari ketegangan geopolitik ini adalah ketidakstabilan harga minyak. Biaya logistik juga meningkat, sehingga industri harus beradaptasi cepat,” tambah Nailul.
Pengembangan Sumber Alternatif
Fajar Budiono, sekretaris jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), mengatakan bahwa kebutuhan naphtha industri petrokimia meningkat dari 2,7 juta ton per tahun menjadi 4,5 juta ton di 2025 akibat ekspansi kapasitas produksi. Untuk mengatasi ketergantungan pada Timur Tengah, industri mulai menggali sumber pasokan alternatif seperti Afrika, Asia Tengah, dan Amerika.
“Pengiriman dari Timur Tengah ke Indonesia membutuhkan waktu 10 hingga 15 hari, sementara dari sumber luar mencapai 50 hari,” ujar Fajar.
Sebagai langkah mitigasi jangka menengah, industri juga sedang mengembangkan bahan baku alternatif. Kondensat dan LPG dinilai sebagai pilihan utama, meski implementasinya masih terhambat oleh tarif masuk. Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa pemerintah akan mengambil langkah-langkah untuk menekan beban biaya IKM di tengah ancaman kelangkaan bahan baku global.
Tindakan Pemerintah untuk Stabilisasi
Menperin menegaskan bahwa ketersediaan bahan baku plastik saat ini tidak hanya melibatkan pasokan, tetapi juga harga (pricing). Untuk itu, pemerintah berupaya menjaga stabilitas pasokan agar UMKM tidak terbebani. Esther Sri Astuti, direktur INDEF, mengingatkan perlunya respons yang cepat dan terkoordinasi untuk mencegah dampak yang lebih luas.