Main Agenda: Pakar: RI perlu siapkan strategi hadapi lonjakan harga minyak dunia
Pakar: RI perlu siapkan strategi hadapi lonjakan harga minyak dunia
Jakarta – Pakar energi, Putra Adhiguna dari Energy Shift Institute, mengatakan pemerintah Indonesia harus mengevaluasi serta merancang langkah-langkah strategis untuk menghadapi kemungkinan kenaikan harga minyak global. Hal ini terkait dengan gagalnya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, pekan lalu (12/4).
“Permintaan untuk menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi patut diapresiasi, tapi saat ini kita perlu waspada terhadap pengaruh fluktuasi harga minyak,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Putra menjelaskan bahwa selama konflik berlangsung, terdapat perbedaan signifikan antara harga minyak di pasar fisik Timur Tengah dan harga acuan yang berlaku. Selisih ini disebabkan oleh keterlambatan pengiriman kapal pengangkut minyak yang masih dalam perjalanan, sehingga dampak kenaikan harga terbaru belum sepenuhnya terwujud.
“Harga minyak Brent tampaknya belum mengakomodasi perubahan penuh, karena masih ada jeda waktu dari kapal-kapal yang berlayar sejak awal Maret,” tambahnya.
Menurut Putra, sejumlah negara telah mulai menyesuaikan harga BBM secara bertahap. Oleh karena itu, pemerintah perlu meninjau kembali pengelolaan anggaran energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan memastikan bahwa beban tidak ditransfer ke Pertamina.
Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, pekan lalu (6/4), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan harga BBM subsidi akan tetap stabil hingga akhir tahun ini, meski harga minyak global naik akibat perang geopolitik. Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak mampu memprediksi atau menjamin fluktuasi harga BBM non-subsidi.
“Kami telah memperhitungkan asumsi harga minyak 100 dolar AS per barel hingga akhir tahun, sehingga harga BBM subsidi tidak akan naik,” ujarnya.
Purbaya juga mengatakan pemerintah sudah mempersiapkan langkah mitigasi dan mengukur daya tahan APBN dalam berbagai skenario, baik harga 80 dolar AS maupun 100 dolar AS per barel. Jika konflik terus berlanjut, proyeksi harga minyak global bisa mencapai 110-120 dolar AS per barel, menurut Putra.