Pertamina upayakan pembebasan dua kapal masih tertahan di Teluk Persia
Pertamina Upayakan Pembebasan Dua Kapal Masih Tertahan di Teluk Persia
Jakarta – Seorang perwakilan dari PT Pertamina (Persero) mengungkapkan bahwa perusahaan tersebut masih berusaha mengamankan dua kapal tanker yang terjebak di wilayah Teluk Persia karena ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Penutupan Selat Hormuz akibat konflik tersebut menyebabkan kedua kapal tersebut terperangkap sejak awal Maret 2026.
“Kedua kapal tersebut masih dalam posisi yang sama. Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Luar Negeri, untuk memastikan pembebasan mereka,” kata Arya Dwi Paramita saat diwawancarai di acara Sustainability Champions yang diadakan di Jakarta, Kamis.
Menurut Arya, Pertamina mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Luar Negeri, KBRI di Tehran, serta pihak lain yang membantu upaya melepas dua kapal, yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro. Saat ini, perusahaan terus memantau perubahan kondisi di Selat Hormuz yang terus berkembang.
Di sisi lain, Muhammad Baron, wakil direktur komunikasi perusahaan, menambahkan bahwa Pertamina mempertahankan komunikasi dengan awak kapal untuk memastikan keamanan mereka. Selain itu, Pertamina International Shipping juga berkoordinasi dengan asuransi dan pihak-pihak terkait lainnya.
“Kami berharap, ketika situasi memungkinkan, kapal-kapal tersebut bisa segera melewati Selat Hormuz,” jelas Baron.
Dua kapal tanker Pertamina dilaporkan tertahan di perairan dekat Selat Hormuz sejak awal Maret 2026. Kemlu RI menyatakan bahwa pihak Iran telah merespons positif permintaan Indonesia untuk memastikan kedua kapal dapat berlayar dengan aman. Meski tindak lanjut teknis dan operasional telah dimulai, waktu pasti pembebasan masih belum diketahui.
Berdasarkan data dari Vessel Finder, per Sabtu sore, kedua kapal masih berada di wilayah Teluk Persia. Kapal Pertamina Pride terdeteksi di dekat Al Jubail, Arab Saudi, sementara Gamsunoro ditemukan di perairan Dubai, Uni Emirat Arab.
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menekankan bahwa kapal-kapal tersebut masih perlu melalui proses negosiasi dengan otoritas Iran. Ia menjelaskan bahwa ketegangan di kawasan belum mereda, sehingga prosedur pemeriksaan terus berlangsung.