Facing Challenges: PBB: Sederet pembatasan utama terus hambat upaya bantuan di Gaza

PBB: Sederet pembatasan utama terus hambat upaya bantuan di Gaza

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengungkapkan bahwa meskipun bantuan kemanusiaan telah mencapai wilayah Gaza, pembatasan barang-barang “berfungsi ganda” masih menghambat respons bantuan. Peralatan yang dibutuhkan untuk membersihkan amunisi yang belum meledak, serta kegiatan pembersihan bom dan ranjau, belum diperbolehkan masuk ke Gaza. OCHA menyebutkan bahwa penghalang ini menjadi hambatan utama dalam upaya memperkecil risiko bagi warga sipil dan pekerja bantuan.

Kecelakaan terus meningkat akibat akses terbatas

Sejumlah mitra aksi penanggulangan ranjau mengatakan bahwa kurangnya alat pembersihan bahan peledak memperparah krisis keselamatan. “Lebih dari selusin kecelakaan yang melukai lebih dari 30 orang telah terjadi sejauh ini pada 2026. Mengatasi risiko tersebut memerlukan izin untuk membawa peralatan penting ke Gaza dan melaksanakan seluruh kegiatan pembuangan bahan peledak,”

ujar OCHA.

Edukasi dan layanan kemanusiaan tetap berjalan

Dalam beberapa minggu terakhir, OCHA mencatat bahwa tim penanggulangan ranjau telah memberikan sesi edukasi tentang bahaya bahan peledak kepada lebih dari 12.000 warga di Gaza City, Deir al-Balah, dan Khan Younis. Meski ada hambatan, layanan penting seperti bantuan tunai dan perlengkapan kebersihan tetap terus berlangsung untuk mendukung kesehatan dan kesejahteraan perempuan serta anak perempuan.

Kekerasan dan pengungsian memburuk

OCHA melaporkan bahwa jumlah warga Palestina yang terpaksa mengungsi terus meningkat, terutama di Tepi Barat yang diduduki. Pada dua minggu pertama April saja, sekitar 150 orang terpaksa meninggalkan rumah, sehingga total pengungsi hingga 2026 mencapai lebih dari 2.500 orang, termasuk lebih dari 1.100 anak-anak. Pengungsian utama disebabkan oleh kekerasan pemukim, pembatasan akses bantuan, serta kerusakan infrastruktur.

Keterlibatan Israel dalam konflik terus diperdebatkan

Dalam beberapa hari terakhir, laporan baru menyebutkan serangan dan penembakan Israel yang memengaruhi area permukiman, meningkatkan ancaman terhadap warga sipil. Contohnya, pada Sabtu (11/4) lalu, dua orang termasuk seorang anak kecil terluka akibat tembakan saat sekolah PBB yang menjadi tempat penampungan pengungsi di Kamp Jabalya mengalami serangan. OCHA kembali menegaskan perlunya perlindungan terhadap warga sipil dan fasilitas kemanusiaan sesuai hukum internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *