Main Agenda: Pergerakan kurs rupiah dipengaruhi potensi gencatan senjata AS-Iran

Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Dipengaruhi Peluang Akhir Perang AS-Iran

Jakarta – Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyatakan, nilai tukar rupiah berpotensi menguat karena adanya kemungkinan penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Prediksi tersebut didasarkan pada harapan berakhirnya keadaan darurat di Selat Hormuz, yang berdampak positif pada pasar keuangan global.

Presiden AS Beri Harapan Pada Kesepakatan

Dalam wawancara dengan ANTARA, Josua menjelaskan bahwa Presiden AS Donald Trump mengungkapkan konflik yang berlangsung selama tujuh minggu hampir selesai. Gedung Putih juga menyampaikan optimisme terhadap pencapaian kesepakatan dan membuka peluang pertemuan lebih lanjut di Pakistan.

“Presiden AS menyatakan bahwa konflik tersebut hampir berakhir, sementara Gedung Putih yakin tercapainya kesepakatan,” ujar Josua.

Pada Jumat pagi, rupiah mengalami pelemahan 18 poin atau 0,10 persen, mencapai Rp17.157 per dolar AS dari level Rp17.139 di penutupan sebelumnya.

Pakistan Terus Mediasi Konflik

Kementerian Luar Negeri Pakistan, mengutip Anadolu, menegaskan bahwa AS dan Iran tetap bersedia berdialog lebih lanjut. Mereka meminta agar spekulasi tentang pertemuan kedua di Islamabad tidak berlebihan.

“Program nuklir Iran menjadi isu utama yang dibahas dalam negosiasi, sementara Pakistan meningkatkan upaya mediasi setelah diskusi 16 jam di akhir pekan lalu tidak menghasilkan kesepakatan,” tambah Tahir Andrabi, juru bicara Kemlu Pakistan.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sedang melakukan kunjungan ke Arab Saudi, Qatar, dan Turki. Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir pergi ke Iran untuk diskusi dengan para pemimpin negara itu.

Data Ekonomi Tiongkok Berkontribusi Pada Sentimen Pasar

Di sisi ekonomi global, data PDB Tiongkok yang kuat pada kuartal pertama 2026 juga memberikan dampak positif. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5 persen year-on-year, lebih tinggi dari 4,5 persen pada kuartal IV-2025 dan melebihi ekspektasi pasar 4,8 persen.

Analisis menunjukkan bahwa pertumbuhan ini memperkuat keyakinan investor bahwa pemerintah Tiongkok mampu mengurangi dampak konflik Iran dengan gangguan yang terbatas, didukung oleh stok minyak yang cukup dan langkah mitigasi yang terencana.

Komitmen BI dan Penilaian Institusi Eksternal

Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) berperan dalam memperkuat kepercayaan pasar. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan komitmen bank sentral terhadap stabilitas kebijakan dalam pertemuan dengan investor di New York dan Boston.

Pemerintah juga mengapresiasi pengakuan dari Asian Development Bank (ADB) dan FTSE Russell terhadap ketahanan ekonomi Indonesia. ADB memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil di level 5,2 persen pada 2026 dan 2027, naik dari 5,1 persen tahun sebelumnya. Laporan tersebut berjudul The Middle East Conflict Challenges Resilience in Asia and the Pacific.

FTSE Russell, pada 7 April 2026, mempertahankan status pasar modal Indonesia sebagai Secondary Emerging Market dan tidak menempatkan negara ini di daftar pemantauan.

Kinerja Rupiah Tetap Terbatas

Secara keseluruhan, peningkatan rupiah dinilai relatif terbatas dibandingkan mata uang negara lain di kawasan. Hal ini disebabkan oleh persepsi investor bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih lebih rentan, serta meningkatnya permintaan dolar AS akibat pembayaran bunga dan dividen instrumen keuangan kepada investor asing.

“Rupiah diperkirakan bergerak antara Rp17.075 hingga Rp17.200 per dolar AS hari ini,” kata Josua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *