Perbanas sebut kolaborasi bank-P2P lending dorong pertumbuhan kredit

Kolaborasi Bank dan P2P Lending sebagai Strategi Pembiayaan

Dalam upaya meningkatkan akses pembiayaan, Perbankan Nasional menggandeng platform peer-to-peer (P2P) lending untuk menjangkau kelompok yang belum sepenuhnya dilayani. Michellina Laksmi Triwardhany, Ketua Bidang Pengembangan Produk Perbanas, menjelaskan bahwa kerja sama ini membantu bank mencapai nasabah baru secara efisien, tanpa harus membangun infrastruktur lengkap dari awal.

“Dengan memadukan keunggulan P2P lending, bank bisa memberikan pembiayaan yang lebih produktif. Teknologi dan data alternatif dari P2P lending memungkinkan ekspansi akses yang lebih cepat,” ujarnya dalam siaran pers di Jakarta, Rabu.

Kolaborasi ini juga membuka peluang diversifikasi portofolio, penguatan ekosistem, serta pembagian risiko antar institusi. Dhany menekankan perlunya standar kemitraan yang jelas sebagai dasar kerja sama antar bank dan P2P lending, agar prosesnya berjalan stabil.

Menurutnya, standar tersebut mencakup manajemen risiko yang ketat, transparansi, akuntabilitas, serta tata kelola yang baik. “Peran asosiasi industri sangat penting dalam menyusun pedoman tersebut, agar kolaborasi tetap bermakna,” tambahnya.

Analisis Pertumbuhan P2P Lending

Industri P2P lending mencatatkan pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan laju tahunan hampir 34% antara 2019 dan 2024. Dhany menyatakan bahwa model ini menawarkan kecepatan proses, teknologi underwriting digital, dan penggunaan data alternatif yang memperkuat daya saing sektor pembiayaan.

Sementara itu, data dalam White Paper Perbanas dan Aftech menunjukkan bahwa rasio kredit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih tergolong rendah. Pada 2024-2025, rasio tersebut sekitar 36,4%, jauh di bawah rata-rata negara Asia Timur dan Pasifik yang mencapai 74,46%.

“Kondisi ini menunjukkan potensi besar untuk mengembangkan pembiayaan formal, terutama untuk sektor underbanked dan usaha kecil yang belum sepenuhnya didukung oleh bank,” katanya.

Perkembangan Model Kolaborasi

Diversifikasi model kerja sama antar bank dan P2P lending kini semakin meluas, termasuk joint financing, channeling, serta banking-as-a-service. Di sisi produk, bentuk kolaborasi mencakup white label lending dan ecosystem lending, seperti pembiayaan invoice, supply chain financing, BNPL, serta payday loan.

Dhany menyoroti bahwa variasi model ini memungkinkan bank tetap mempertahankan prinsip kehati-hatian, sekaligus memperluas jangkauan ke sektor-sektor yang membutuhkan proses lebih cepat dan fleksibel. Namun, ia menekankan bahwa pertumbuhan harus tetap diimbangi dengan kualitas aset yang terjaga.

“Manajemen risiko menjadi faktor kritis dalam kolaborasi ini. Tanpa penyelarasan risk appetite, komunikasi terbuka, dan evaluasi portofolio yang disiplin, kolaborasi bisa berpotensi menyebabkan risiko baru,” ujarnya.

Selama periode Januari 2021 hingga April 2025, porsi kredit yang disalurkan melalui P2P lending meningkat drastis dari 0,05% menjadi 1,30% dari total kredit bank. “Kalau dikelola dengan tata kelola kuat, kolaborasi ini bisa menjadi akselerator inklusi keuangan sekaligus menjaga kualitas aset perbankan,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *