Special Plan: Ekonom: Optimisme fiskal perlu diiringi konsolidasi nyata
Ekonom: Optimisme Fiskal Perlu Disertai Langkah Konsolidasi Nyata
Jakarta – Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menyatakan bahwa kepercayaan pemerintah terhadap ketahanan fiskal harus diimbangi dengan upaya konsolidasi yang konkret. Ia menekankan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) perlu menunjukkan stabilitas di permukaan, tetapi juga daya tahan yang kuat menghadapi tekanan ekonomi global yang berlangsung lama.
Rizal menjelaskan bahwa bantalan fiskal saat ini masih memadai untuk menutupi dampak jangka pendek, namun kurang memadai dalam menghadapi guncangan jangka panjang. “Fasilitas fiskal kita di kuartal II masih cukup untuk meredam gangguan sementara, tetapi belum cukup tebal menghadapi krisis yang berkepanjangan,” ujarnya dalam wawancara dengan ANTARA di Jakarta, Rabu.
“Fasilitas fiskal kita di kuartal II masih cukup untuk meredam gangguan sementara, tetapi belum cukup tebal menghadapi krisis yang berkepanjangan,” kata Rizal.
Menurut Rizal, tekanan fiskal saat ini berasal dari beberapa faktor, seperti kenaikan harga energi, pelemahan nilai tukar rupiah, serta risiko perlambatan penerimaan pajak akibat melemahnya aktivitas ekonomi. Kondisi ini membuat ruang belanja pemerintah semakin sempit, terutama karena kebutuhan subsidi dan kompensasi energi meningkat.
Dalam situasi tersebut, Rizal menyatakan bahwa APBN masih mampu bertindak sebagai peredam dampak negatif, tetapi dengan biaya yang relatif tinggi. Ia menekankan bahwa perlu strategi pengelolaan ruang fiskal untuk menjaga fleksibilitasnya. “Intinya, tantangan fiskal kita lebih terkait dengan kualitas daya tahan, bukan hanya tingkat defisit. Selama struktur belanja didominasi komponen infleksibel dan sumber penerimaan belum kuat, setiap tekanan eksternal akan segera mengurangi ruang anggaran,” jelasnya.
“Secara fundamental, tantangan fiskal kita justru ada pada kualitas daya tahannya, bukan sekadar level defisit. Selama struktur belanja masih didominasi komponen yang kurang fleksibel dan basis penerimaan belum cukup kuat, maka setiap shock eksternal akan cepat menggerus ruang fiskal,” jelas Rizal.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan keyakinan bahwa Indonesia masih memiliki kondisi fiskal yang kuat dan bantalan anggaran yang memadai, meski di tengah ketidakpastian global. Dalam kunjungan ke Amerika Serikat minggu lalu, Purbaya menilai perekonomian negara mampu mencapai pertumbuhan 5,4–6 persen pada 2026, sekalipun menghadapi tantangan internasional yang sedang berlangsung.
Rizal menambahkan bahwa optimisme pemerintah sangat penting untuk menjaga kepercayaan pasar, tetapi harus disertai tindakan nyata dalam mengatur subsidi dan memperkuat penerimaan negara secara struktural. Hal ini diperlukan agar ketahanan fiskal tidak hanya terjaga dalam jangka pendek, tetapi juga tetap kokoh menghadapi tekanan di masa depan.