Key Issue: Kepala BRIN lirik inovasi baru untuk atasi krisis air dan energi
Kepala BRIN Lirik Inovasi Baru untuk Atasi Krisis Air dan Energi
Di Jakarta, Arif Satria, Kepala BRIN, menyoroti potensi teknologi terbaru sebagai solusi untuk mengatasi krisis air dan energi yang semakin mengemuka. Dalam Sidang Terbuka Majelis Pengukuhan Profesor Riset di Jakarta, Rabu, ia menyampaikan bahwa kekeringan saat ini menghimpit berbagai wilayah, padahal dahulu krisis air dianggap mustahil terjadi di bumi yang 70 persen terdiri dari air. Teknologi inovatif, menurutnya, bisa menjadi kunci untuk mengatasi tantangan tersebut.
Terobosan Teknologi untuk ‘Memanen’ Air
“Omar Yaghi, salah satu penerima Nobel 2025, menemukan metode untuk ‘mengumpulkan’ air dari udara. Ini adalah langkah penting yang perlu kita perhatikan, dan kini kita harus mampu ‘memanen’ air dari atmosfer,” ujarnya.
Arif menekankan bahwa krisis air dan energi bukan lagi masalah masa depan, tetapi kenyataan yang perlu direspon segera. Ia menyebutkan bahwa teknologi ini bisa diterapkan untuk memanen sumber daya alam yang sebelumnya sulit diakses.
Inovasi Energi dengan Metal Organic Framework
Arif juga menyebutkan bahwa prinsip serupa bisa digunakan untuk efisiensi energi. Teknologi Metal Organic Framework, yang dikembangkan Susumu Kitagawa, ilmuwan dari Kyoto University, bisa menjadi alat untuk menangkap energi secara lebih optimal. Susumu Kitagawa dan Omar Yaghi dinilai sebagai tokoh penting dalam penemuan-penemuan berpengaruh tahun 2025.
Kolaborasi untuk Meningkatkan Efisiensi Penyimpanan Gas
“Kedua inovasi ini perlu dikembangkan bersama untuk menciptakan penyimpanan gas yang lebih efisien, yang bisa mengurangi ketergantungan masyarakat pada sumber daya terbatas,” tambahnya.
Menurut Arif, teknologi yang sudah berkembang bisa mengubah cara penggunaan energi. Contohnya, tabung LPG 12 kilogram yang biasanya habis dalam sebulan, berpotensi bertahan hingga dua hingga dua setengah bulan. Untuk mewujudkan hal ini, BRIN berkerjasama langsung dengan Susumu Kitagawa melalui pembangunan laboratorium gabungan di Serpong.
Perkembangan Teknologi sebagai Kunci Masa Depan
Arif menyatakan bahwa banyak teknologi lama tidak lagi relevan dan harus diganti dengan inovasi baru. “Dengan peningkatan efisiensi ini, krisis energi bisa diantisipasi secara lebih baik,” pungkasnya.