Key Strategy: BNPB: 20 tahun gempa Yogyakarta jadi momentum perkuat mitigasi bencana

BNPB: 20 tahun gempa Yogyakarta jadi momentum perkuat mitigasi bencana

Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa memasuki 20 tahun peristiwa gempa Yogyakarta tahun 2006 menjadi kesempatan strategis bagi Indonesia untuk meninjau kembali pentingnya upaya mitigasi dan pengelolaan risiko bencana secara berkelanjutan.

Kurun waktu 20 tahun sejak gempa Yogyakarta mengingatkan kita semua. Peristiwa tersebut merupakan salah satu momen penting dalam lahirnya Undang-Undang Nomor 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana, yang mengubah pola pikir kita dari respons darurat menjadi pengurangan risiko.

Dalam seminar Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional dan 20 Tahun Gempa Yogyakarta yang diikuti dari Jakarta, Kamis, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati menekankan bahwa bencana alam tidak lagi bisa dilihat sebagai kejadian yang hanya ditunggu, tetapi harus dikelola sejak tahap awal.

BNPB mencatat bahwa hingga awal tahun 2026, Indonesia telah mencatat sekitar 700 insiden bencana. Angka ini tidak terlepas dari letak geografis Indonesia di wilayah cincin api, serta potensi geologi dan hidrometeorologi seperti gempa, letusan gunung api, banjir, dan longsor.

Yogyakarta dinilai sebagai pusat pembelajaran penanggulangan bencana nasional karena memiliki modalitas sosial yang luar biasa dan kolaborasi yang kuat antar berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, dan relawan masyarakat.

“Yogyakarta adalah tempat pertama kalinya Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan pusat studi bencana di universitas terbentuk. Wilayah lain harus meniru ketangguhan Yogyakarta dalam membangun kembali daerahnya setelah bencana,” kata Raditya.

BNPB juga mendorong pemerintah daerah untuk mengintegrasikan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) ke dalam dokumen perencanaan pembangunan. Ini diperlukan untuk memastikan alokasi dana yang memadai guna mencegah kerugian ekonomi yang memengaruhi inflasi.

Dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana yang jatuh pada 26 April mendatang, Raditya mengimbau seluruh lapisan masyarakat, khususnya di Yogyakarta, untuk menjalani simulasi evakuasi bersamaan pada pukul 10.00 WIB.

BNPB menekankan bahwa peningkatan kesadaran, pendidikan, dan sistem peringatan dini yang langsung menyentuh masyarakat merupakan fondasi utama menuju resiliensi bangsa yang berkelanjutan hingga 2045.

“Mulai dari sekolah hingga perguruan tinggi, simulasi harus rutin dilakukan. Di Sleman bisa menggunakan skenario erupsi Merapi, sedangkan di daerah pesisir Bantul, skenario tsunami dapat menjadi acuan. Kesiapsiagaan harus dianggap sebagai investasi, bukan tindakan yang ditunda hingga kejadian terjadi,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *