Special Plan: LSF: Peringatan Hari Kartini harus berfokus pada kebijakan konkret
LSF: Peringatan Hari Kartini Harus Berfokus pada Kebijakan Konkret
Serang, Selasa
Menurut Lingkar Studi Feminis (LSF), acara memperingati Hari Kartini saat ini masih terlalu berfokus pada ritual rutin yang kurang menyentuh isu-isu krusial perempuan. Aktivis perempuan dari Banten, Eva Nurcahyani, menegaskan bahwa refleksi perjuangan RA Kartini seharusnya diwujudkan dalam bentuk program nyata, bukan hanya simbol budaya seperti lomba memasak atau busana kebaya.
“Oportunitas Hari Kartini seharusnya dimanfaatkan sebagai ajang untuk menghasilkan kebijakan yang mendukung perempuan,” ujarnya.
Eva menyoroti tantangan yang dihadapi perempuan dalam menjalankan peran di dua bidang, yaitu kegiatan publik dan tugas domestik. Menurutnya, hal ini membutuhkan kebijakan yang memperhatikan kesetaraan gender. “Pemerintah daerah perlu menyediakan layanan kesehatan gratis khusus perempuan sebagai bagian dari momentum ini,” katanya.
Dalam bidang pendidikan, Eva mengkritik adanya perempuan di Banten yang terpaksa meninggalkan sekolah karena pengaruh paradigma lama yang lebih menekankan pernikahan. Ia menegaskan bahwa negara wajib menjamin akses pendidikan yang setara untuk memutus siklus ketimpangan. “Jika Hari Kartini diartikan dengan kepekaan, pemerintah semestinya mampu menciptakan kebijakan yang lebih progresif,” jelasnya.
Eva juga menyoroti ketimpangan dalam program KB, di mana beban utamanya masih ditanggung oleh perempuan. Ia mengajak pemerintah daerah lebih sensitif terhadap layanan reproduksi yang adil bagi seluruh pihak. Identitas Hari Kartini yang terkait dengan kebaya dan aktivitas rumah tangga, menurut Eva, menjadi warisan politik “ibuisme” masa lalu yang cenderung mengurangi peran perempuan sebagai bagian dari masyarakat.
Lebih lanjut, ia berharap pemerintah Banten menjadikan hari tersebut sebagai waktu evaluasi untuk menerapkan kebijakan inklusif dan berkeadilan gender, agar perjuangan Kartini bisa berlanjut secara nyata.