Meeting Results: Alasan warga Indonesia lirik mobil listrik China
Tren Mobil Listrik di Indonesia
Baru-baru ini, transformasi di sepanjang jalan raya Indonesia terlihat jelas. Sebelumnya, lalu lintas didominasi oleh kendaraan bahan bakar fosil, tetapi kini, di berbagai lokasi perkotaan seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, kendaraan listrik (EV) semakin umum. Perubahan ini juga mencakup perubahan pada infrastruktur pengisian daya, termasuk stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) yang mulai muncul di area jalan tol.
Alasan Pemilihan EV
Menurut data terbaru dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) melonjak 95,9 persen pada kuartal pertama (Q1) 2026, mencapai 33.150 unit. Angka ini naik dari 16.926 unit pada periode yang sama tahun lalu. Bagi sebagian besar warga Indonesia, beralih ke EV bukan sekadar gaya hidup ramah lingkungan, melainkan keputusan finansial logis dalam situasi global saat ini.
“Saya tertarik membeli mobil listrik karena lebih irit biaya bahan bakarnya, dan kita bisa mengisi daya baterai di rumah tanpa antre di SPBU,” kata Agus Riyanto (57), pensiunan BUMD, kepada Xinhua di Bogor pada Jumat (17/4).
“Faktor lain yang paling penting bagi saya adalah bebas ganjil genap. Sistem parkir kantor dan jalanan yang saya lalui menerapkan ganjil genap,” ujar Satriyo (37), pegawai BUMN, di Jakarta pada Senin (20/4).
Kekhawatiran Harga Bahan Bakar
Isu harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Setelah perang di Timur Tengah, kekhawatiran kenaikan BBM terus menghantui. Della Hernita (40), staf universitas swasta di Jakarta, mengakui konflik tersebut memengaruhi keputusannya membeli mobil listrik. “Dengan kondisi global yang tidak stabil, harga BBM menjadi tidak menentu. Mobil listrik terasa lebih aman,” katanya.
Satriyo juga menyebutkan kebutuhan suku cadang sebagai tantangan. Meski mobil China seperti Wuling memiliki kualitas material dan komponen yang baik, ia mengharapkan pihak produsen terus meningkatkan ketersediaan spare part. “Saat ini, konsumen masih harus menunggu waktu lama untuk memperoleh suku cadang,” jelasnya.
Dominasi Merek China di Pasar EV
Di Indonesia, pasar mobil listrik saat ini didominasi oleh merek China. Data terbaru dari Gaikindo dan laporan industri hingga April 2026 menunjukkan pangsa pasar mobil listrik asal Tiongkok mencapai sekitar 90 persen dari total penjualan BEV nasional. Dominasi ini didorong oleh strategi penetrasi agresif dari perusahaan seperti BYD, Wuling, dan Chery melalui Jaecoo.
Kebiasaan masyarakat Indonesia yang semakin percaya pada produk buatan Tiongkok, serta perkembangan teknologi yang pesat di sektor otomotif, juga berkontribusi pada dominasi ini. “Tiongkok jauh lebih unggul dalam pengembangan teknologi EV, mungkin sudah 10 tahun lebih maju,” tutur Satriyo. Teknologi baterai dengan pengisian super cepat telah dikuasai Tiongkok, dan diperkirakan akan masuk ke Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.