Meeting Results: Dibilang Terancam Hilang, Pekerjaan Ini Justru Bertahan di Era AI

Dibilang Terancam Hilang, Pekerjaan Ini Justru Bertahan di Era AI

Microsoft telah mengungkapkan daftar 40 profesi yang paling intensif menggunakan AI generatif. Profesi seperti penerjemah, juru bahasa, dan sejarawan mendominasi peringkat pertama, menurut laporan yang dirilis akhir April 2026. Meski demikian, peneliti menyebutkan bahwa pekerjaan yang berisiko tinggi tergantung pada AI adalah bidang yang melibatkan pengetahuan teknis, seperti tugas-tugas di bidang komputer, matematika, atau administrasi kantor.

Di antara daftar tersebut, pekerjaan jurnalistik seperti penulis dan jurnalis juga masuk. Meski AI mulai mengubah industri media dengan membantu produksi berita, analisis data, dan distribusi konten, para profesional tetap mempertahankan peran kunci mereka. Data dari Nieman Lab, yang dipublikasikan di Reuters Institute for the Study of Journalism, menunjukkan 56% jurnalis di Inggris menggunakan AI setiap minggunya.

Kekhawatiran Profesional akan Otomatisasi

Para peneliti Microsoft mengingatkan bahwa tinggi atau rendahnya ketergantungan pada AI tidak langsung menyebabkan penggantian pekerjaan. Namun, mereka menekankan bahwa kesalahan dalam menyimpulkan dampak teknologi ini bisa terjadi karena penggunaan AI masih banyak diprediksi secara sederhana.

“Sangat menggoda untuk menyimpulkan bahwa pekerjaan dengan tumpang tindih tinggi dengan aktivitas AI akan diotomatisasi, sehingga mengalami pengurangan upah atau kehilangan posisi. Namun, data kami belum mencakup dampak bisnis yang kompleks dari teknologi baru, yang seringkali tidak terduga,” tulis tim riset Microsoft, seperti dikutip pada Jumat (24/4/2026).

AI di Redaksi: Efisiensi dan Tantangan

Dalam konferensi World Journalist Conference 2026 di Korea Selatan (29/3/2026), AI menjadi topik utama. Kaijun Zheng, Direktur Social Media dari Xinhua News Agency, menjelaskan bahwa organisasinya mengintegrasikan 230 alat AI dalam sistem kantornya. Di China, penggunaan AI di sektor media sangat masif, dengan 20 tools AI aktif digunakan di perangkat pribadinya.

“AI membantu kami dalam memproses data, menerjemahkan wawancara, memperbaiki bahasa, dan memvisualisasikan ide. Ini membebaskan waktu untuk fokus pada hal-hal yang hanya manusia bisa lakukan,” ujarnya.

Studi menunjukkan AI tidak hanya meningkatkan efisiensi tetapi juga menghadirkan tantangan. Masalah ‘AI Slop’—yaitu kesalahan seperti subtitle yang keliru atau cerita palsu—menjadi ancaman bagi kepercayaan publik. Zheng menyoroti juga isu hak cipta, karena AI bisa mengutip atau merangkum tulisan tanpa memberi kredit. Ia menekankan perlunya regulasi global untuk mengatasi hal ini.

Pekerjaan Jurnalis: Jauh dari Terancam

Jurnalis tetap berada di garis depan, meski AI semakin digunakan. Zheng menyatakan algoritma tidak mampu menggantikan interaksi langsung dengan narasumber. “AI mengelola probabilitas, menyesuaikan pola yang sudah ada. Sementara jurnalisme menangani kebenaran dan kejadian nyata,” tambahnya.

Menurutnya, AI bisa menghasilkan 10 variasi judul, 5 sudut penulisan, dan 3 alternatif konten. Namun, kreativitas dan keakuratan masih menjadi tugas utama jurnalis. Meski alat ini membantu, mereka tetap diperlukan untuk menjaga kualitas dan nilai keaslian berita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *