Latest Program: Kisah MSI: Perusahaan Tekstil RI, Bisa Bertahan 36 Tahun Lewati Krisis
Kisah MSI: Perusahaan Tekstil RI yang Mampu Bertahan 36 Tahun di Tengah Krisis
Sejak tahun 1989, PT Mitra Saruta Indonesia (MSI) telah bertahan sebagai produsen tekstil berbasis ekspor selama 36 tahun. Berlokasi di Nganjuk, Jawa Timur, perusahaan ini merupakan salah satu industri padat karya yang memanfaatkan limbah tekstil sebanyak 3.500 ton per bulan, dengan jumlah karyawan mencapai 1.700 orang. Produk utama yang dihasilkan meliputi berbagai olahan tekstil, seperti benang dan sarung tangan, yang diekspor ke berbagai pasar internasional.
Ekspor ke Pasar Global
Presiden Direktur PT MSI, Yanto Andrian Hoo, mengungkapkan bahwa ekspor pertama perusahaan ke Jepang terjadi dalam 2-3 tahun pertama operasional. Sampai saat ini, Jepang tetap menjadi tujuan utama, sementara Amerika Serikat menempati posisi kedua. Perusahaan ini juga mengekspor benang ke 29 negara, termasuk Armenia, Bangladesh, Belarus, Belgia, dan Vietnam. Sarung tangan jenis berbagai dikirim ke 21 negara, seperti Australia, Kanada, Filipina, serta Spanyol.
“Diversifikasi pasar ekspor itulah yang membuat perusahaan mampu bertahan dalam berbagai krisis. Jepang menjadi prioritas utama, sementara Amerika Serikat juga menjadi tujuan utama lainnya,” ujar Yanto di pabrik MSI.
Pemulihan dari Krisis Global
Pabrik MSI kini memiliki kapasitas produksi sarung tangan hingga 1,5 juta lusin per bulan, serta menghasilkan benang berwarna sebanyak 3.250 ton. Model bisnis yang dijalankan perusahaan ini mengandalkan sumber bahan baku lokal, seperti limbah dari pengepul dan UMKM, sehingga tidak tergantung pada impor. “Stok bahan baku kita cukup untuk menjaga stabilitas harga, dan itu membuat pelanggan senang,” jelas Yanto.
“Karena market kita cukup diverse, dampak dari krisis global tidak begitu signifikan,” tegas Yanto. Ia mengatakan bahwa selama pandemi, penjualan sempat turun hingga 50% pada tiga bulan awal, tetapi mulai pemulihan di bulan keempat dengan kenaikan 40%-90%.
Dukungan dari LPEI
PT MSI juga mendapatkan pendanaan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), alias Indonesia Eximbank. Kepala Divisi NIA dan Strategic Assignment LPEI, Berlianto Wibowo, menegaskan bahwa program penugasan ekspor telah mendukung perusahaan dalam memperluas pasar. “Diversifikasi pasar adalah salah satu fokus utama, terutama saat kondisi ekonomi global tidak stabil,” ucap Berlianto.
“Fasilitas KMKE dan KIE yang diberikan LPEI telah membantu kami menstabilkan operasional, termasuk dalam menambah kapasitas produksi dan memperluas ekspor ke pasar luar negeri,” tambah Berlianto.
Kantor Wilayah Surabaya LPEI mengelola debitur MSI, yang memanfaatkan dua program pendanaan tersebut. Dengan pendekatan ini, perusahaan berhasil menghadapi berbagai tantangan, termasuk konflik perdagangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu krisis ekonomi saat ini.