New Policy: Siaga Perang AS-Iran Jilid 2 Pecah, Trump-Teheran Beri Sinyal Meletus
Tegangan AS-Iran Memanas, Trump dan Teheran Bersiap Memulai Konflik Baru
Jakarta, Pemicu ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah negosiasi dua minggu terakhir buntu. Dalam pernyataan Senin, kedua pihak menyatakan siap kembali ke jalur perang, menjelang gencatan senjata yang akan berakhir pada 22 April mendatang. Perdana Menteri Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengungkapkan kecurigaannya bahwa AS mencoba memanipulasi situasi dengan blokade pelabuhan dan penyitaan kapal Teheran, langkah yang dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.
Iran menuduh AS melanggar kesepakatan dengan memblokir akses ke Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dunia. Dalam unggahan di platform X, Ghalibaf menegaskan bahwa Trump ingin mengubah kondisi perundingan menjadi “meja penyerahan diri” untuk membenarkan permusuhan yang terus berkembang. “Kami tidak bersedia berunding di bawah ancaman, dan dalam dua minggu terakhir, kami telah siap memperkenalkan strategi baru di medan perang,” tulisnya.
“Dengan blokade dan pelanggaran gencatan senjata, Trump berusaha mengubah meja perundingan menjadi meja penyerahan diri, sesuai keinginannya,” kata Ghalibaf, yang memimpin delegasi Iran dalam pembicaraan di Islamabad.
Di sisi lain, Trump menyalahkan Iran atas penutupan kembali Selat Hormuz, yang mengakibatkan gangguan serius pada alur distribusi minyak. Dalam serangkaian unggahan di Truth Social, mantan presiden memperingatkan bahwa “banyak bom akan meledak” jika gencatan senjata berakhir. Ia juga menyatakan bahwa Iran “seharusnya hadir” dalam negosiasi, sebab ia menuturkan bahwa blokade akan berlangsung hingga ada keputusan akhir.
Sementara itu, pelaku militer Iran mengatakan siap menargetkan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz tanpa izin. Dalam wawancara dengan Bloomberg News, Trump menegaskan bahwa ia tidak akan memperpanjang gencatan senjata selama dua minggu ke depan, berdasarkan waktu dimulainya kesepakatan tersebut.
Dampak Ekonomi dan Harga Minyak
Kekhawatiran akan perang berlanjut setelah Iran menutup kembali Selat Hormuz setelah pembukaan sementara akhir pekan lalu. Hal ini menyebabkan harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate melonjak hampir 6%, masing-masing mencapai US$94 dan US$86 per barel. Peningkatan harga tersebut memperparah tekanan ekonomi di Iran, di mana warga mulai mengeluh dampak konflik.
“Dalam 50 hari perang, satu-satunya hal yang ditunjukkan adalah ketidakpedulian terhadap rakyat Iran,” kata seorang dokter Teheran, anonim, dalam wawancara dengan media.
Popularitas Trump di AS terus merosot setelah langkah perangnya mendapat kritik luas. Data dari NBC News Decision Desk menunjukkan hanya 37% orang dewasa yang menyetujui kinerjanya sebagai presiden, sementara 63% mengkritiknya, termasuk 50% yang menyatakan sangat tidak puas. Tegangan ini menimbulkan risiko serius bagi stabilitas politik dan ekonomi negara-negara terkait.