Solving Problems: Mulut Trump Mencla-mencle, Jadi Batu Sandungan di Jalan Damai AS-Iran

Mulut Trump Mencla-Mencle, Batu Penghalang Damai AS-Iran

Diplomasi AS-Iran Terhambat oleh Gaya Berbicara Trump

Jakarta, Proses pemulihan hubungan diplomatik antara Washington dan Teheran kembali teralihkan, bukan hanya karena ketegangan militer, tetapi juga karena retorika Trump yang dinilai memperburuk suasana. Menurut analisis The Guardian, Kamis (23/4/2026), kekasaran dan perubahan mendadak dalam ucapan presiden AS menjadi hambatan utama dalam upaya perundingan yang dimediasi Pakistan di Islamabad.

Kritik terhadap Pendekatan Trump

Selain pembatasan laut AS terhadap pelabuhan Iran, pendekatan komunikasi Trump yang agresif dan sering meremehkan Iran dianggap memperkuat skeptisisme kedua belah pihak. Meski Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan tidak akan merespons setiap pernyataan Trump di media sosial, Teheran tetap tidak bisa mengabaikannya. Beberapa ucapan Trump bertentangan dengan komunikasi rahasia yang diterima Iran mengenai tujuan AS.

“Dengan memberlakukan pengepungan dan melanggar gencatan senjata,” kata Mohammad Bagher Ghalibaf, kepala negosiator Iran, “presiden AS berusaha mengubah meja perundingan menjadi meja penyerahan diri atau untuk membenarkan provokasi perang. Kami tidak menerima perundingan di bawah ancaman.”

Kebingungan Akibat Pernyataan Bertentangan

Duta Besar Iran di Pakistan, Reza Amiri Moghadam, mengutip karya sastra klasik untuk menjelaskan sikap negaranya. “Merupakan kebenaran universal bahwa negara dengan peradaban besar tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman dan paksaan,” merujuk pada Pride and Prejudice.

Di dalam negeri, baik Washington maupun Teheran menghadapi tekanan politik. Trump harus mempertahankan basis pendukung dan mengantisipasi respons pasar, sementara Iran perlu menunjukkan kekuatan dalam menghadapi klaim AS bahwa negara itu lemah.

Respons Trump yang Kontradiktif

Ketegangan semakin mencolok saat Trump merespons pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menyebut Iran akan melonggarkan pembatasan di Selat Hormuz. Alih-alih merespons dengan pelonggaran blokade, Trump menilai langkah tersebut sebagai tanda kekalahan Iran.

“Mereka [Iran] ingin saya membukanya,” kata Trump dalam wawancara telepon. “Iran sangat ingin perbatasan itu dibuka. Saya tidak akan membukanya sampai kesepakatan ditandatangani.”

Beberapa hari setelahnya, Iran kembali menutup Selat Hormuz, memperkuat kesan bahwa AS keliru memahami sikap Teheran. Kedutaan Iran di Ghana menyoroti kebingungan yang ditimbulkan oleh pernyataan Trump yang saling bertentangan. “Presiden AS dalam 24 jam terakhir mengucapkan terima kasih kepada Iran atas penutupan Selat Hormuz, mengancam, menyalahkan China, memuji China, menyatakan blokade berhasil, mengklaim Iran mengisi persediaannya melalui penghalangan, menjanjikan kesepakatan, dan berjanji bom akan dijatuhkan,” kata duta besar itu.

“Grup obrolan WhatsApp satu orang,” sindir Kedutaan Iran, merujuk pada ucapan Trump yang menyerang dan memuji Iran dalam satu kesempatan.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, juga mengkritik cara berbicara Trump yang terlalu banyak. Situasi menjadi lebih rumit ketika Trump, pada Selasa, menyampaikan pernyataan yang bertolak belakang. Ia mengatakan: “Saya memperkirakan akan melakukan pengeboman,” sekaligus menyebut militer AS siap bertindak sebelum tenggat waktu berakhir.

Dalam rangkaian pernyataan yang sama, Trump memuji Iran sebagai negara kuat dan luar biasa, lalu menambahkan: “Mereka tampak…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *