Key Issue: Menbud: Bandung Spirit sebagai kompas moral di tengah dinamika global
Menbud: Bandung Spirit sebagai pedoman etika di tengah dinamika global
Kota Bandung menjadi tempat perayaan 71 tahun Konferensi Asia-Afrika, yang dihadiri oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Dalam kesempatan tersebut, ia menyatakan bahwa semangat Bandung, lahir dari pertemuan tahun 1955, tetap relevan sebagai pedoman etika dalam dunia yang kini semakin tidak pasti.
Fadli menekankan bahwa untuk menciptakan perdamaian berkelanjutan, kebudayaan perlu dipandang sebagai alat utama dalam diplomasi. Ia menegaskan bahwa warisan budaya bisa memperkuat hubungan antarnegara, terutama di kawasan Asia dan Afrika, serta mendorong persatuan dalam menghadapi tantangan global.
“Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, Bandung Spirit justru menjadi relevan sebagai pedoman etika. Jika kita ingin membangun perdamaian berkelanjutan, maka kita harus melindungi kebudayaan,” ujar Fadli.
Dalam dunia yang kian terbuka, kebudayaan memiliki peran ganda. Fadli menjelaskan, kebudayaan berfungsi sebagai benteng untuk menjaga identitas nasional, sekaligus sebagai jembatan memperkuat dialog internasional. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebudayaan agar tidak diabaikan oleh sistem global yang dominan.
Menbud menyampaikan bahwa prinsip Dasasila Bandung, yang muncul dari konferensi tersebut, menjadi dasar penting dalam memperkuat solidaritas dan persahabatan antarbangsa. Prinsip ini juga berkontribusi pada lahirnya Gerakan Non-Blok, serta mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa yang terjajah.
“Semangat solidaritas, kesetaraan, dan kerja sama antarbangsa harus terus digaungkan sebagai kekuatan moral menghadapi dunia yang semakin terfragmentasi,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa perbedaan antarbangsa bukanlah penyebab perpecahan, melainkan sarana membangun dunia yang lebih adil dan damai. Fadli mendorong peningkatan kerja sama dalam bidang kebudayaan melalui pertukaran pengetahuan dan pelestarian warisan budaya.