Important Visit: Trump Sibuk Perang, Warga AS Malah Pusing Mikirin Daging

Sementara Trump Terjebak dalam Perang Geopolitik, Warga AS Terkena Dampak Inflasi Daging

Jakarta, Tahun ini, aroma daging panggang seperti brisket dan steak kini disertai dengan tagihan yang lebih mahal di Negeri Paman Sam. Harga live cattle, atau sapi siap potong, mencapai US$ 2,52 per pon atau US$ 5,56/kg, setara Rp 95.215/kg, pada 15 April 2026, mencatatkan level tertinggi sepanjang sejarah modern komoditas ini. Dalam sebulan terakhir, harga naik 8,3%. Dalam setahun, kenaikan mencapai hampir 22%. Di bursa futures CME, kontrak live cattle sempat menyentuh US$ 2,51 per pon, angka tertinggi sejak era 1960-an.

Melansir CNBC Internasional, populasi ternak sapi AS kini berada di titik terendah sejak 1950-an. Situasinya jauh lebih berat karena jumlah penduduk Amerika saat ini dua kali lipat dibanding era tersebut. Artinya, lebih banyak mulut yang harus diisi dengan sumber ternak yang lebih sedikit. Tekanan ini terlihat dari penurunan pemotongan ternak. Estimasi untuk Maret 2026 menunjukkan jumlah sapi yang dipotong berkurang menjadi 2,2 juta ekor, dibandingkan 2,5 juta ekor pada periode sama tahun sebelumnya. Produksi daging sapi juga menyusut sekitar 300 ribu pon, menjadi 1,9 juta pon.

Saat barang berkurang dan permintaan tetap tinggi, harga biasanya naik. Itu yang terjadi saat ini. Bagi rumah tangga AS, dampaknya langsung terasa di rak supermarket. Harga rata-rata daging sapi giling untuk burger mencapai US$ 6,70 per pon pada Maret, meningkat 12% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Produk ini menjadi bagian dari menu harian warga AS, mulai dari burger rumahan hingga BBQ di halaman belakang rumah.

Survei American Farm Bureau Federation menunjukkan hampir 60% petani AS merasa kondisi keuangan mereka memburuk.

Restoran cepat saji juga terdampak. Kebanyakan dari mereka, termasuk McDonald’s, Chipotle, Shake Shack, dan Cracker Barrel, bergantung pada pasokan daging sapi yang terbatas. Ketika bahan baku melonjak, perusahaan harus memilih antara menaikkan harga menu atau menanggung margin yang berkurang. Kondisi semakin rumit karena biaya produksi peternakan naik. Kenaikan harga pupuk dan bahan bakar dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memengaruhi pasar energi.

Inflasi daging sapi datang bersamaan dengan kenaikan harga tomat yang mencapai 15% pada Maret. Burger, BLT, dan salad ikon makanan murah kelas menengah Amerika pelan-pelan berubah menjadi lebih mahal. Ironi politik tak terhindarkan ketika Presiden AS Donald Trump tenggelam dalam isu geopolitik dan perang dagang, sementara tekanan ekonomi justru menghiasi meja makan warga negara sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *