Latest Program: Mata Uang Asia Kebakaran Hebat, Rupiah Paling Sengsara
Mata Uang Asia Kebakaran Hebat, Rupiah Paling Sengsara
Pada Jumat, 17 April 2026, sebagian besar mata uang Asia terpantau melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan pagi hari. Menurut data Refinitiv, per pukul 09.23 WIB, dari 11 mata uang, sembilan mengalami pelemahan, sementara dua lainnya menguat. Pelemahan terdalam dialami oleh rupiah Indonesia, yang turun 0,35% ke level Rp17.185/US$, mencapai titik terendah sepanjang masa.
Penurunan terjadi juga pada mata uang Peso Filipina, baht Thailand, yen Jepang, ringgit Malaysia, dan dong Vietnam. Rupiah mengalami penurunan terbesar, diikuti oleh Peso Filipina dan baht Thailand. Yen Jepang tercatat melemah 0,14%, sedangkan ringgit Malaysia turun 0,1% dan dong Vietnam mengalami penurunan sebesar 0,09%. Sementara itu, yuan China melemah 0,05%, dolar Singapura 0,04%, dan won Korea Selatan 0,02%.
Dalam suasana yang berbeda, dua mata uang Asia berhasil menguat. Yakni, Rupee India yang mengapresiasi 0,14% ke INR92,893/US$, serta dolar Taiwan yang naik tipis 0,03% ke TWD31,551/US$. Arah pergerakan ini sejalan dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) yang mencapai level 98,266, naik 0,05%.
Presiden AS Donald Trump menyatakan yakin perang dengan Iran akan segera berakhir, bahkan mengklaim Teheran telah menyepakati sejumlah ketentuan, termasuk membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan ambisi nuklir. Trump juga mengumumkan gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon, yang dinilai dapat memperkuat peluang negosiasi lanjutan AS-Iran.
Redanya ketegangan geopolitik memberi dampak positif pada harga minyak, yang terus melemah. Hal ini membantu menurunkan ekspektasi inflasi dan mengurangi spekulasi bahwa The Federal Reserve perlu mempertahankan kebijakan ketat lebih lama. John Williams, Presiden The Fed New York, menilai ketidakpastian tinggi membuat bank sentral harus berhati-hati dalam memberikan panduan kebijakan, meski proyeksi dasar tetap membuka ruang penurunan suku bunga jangka panjang.
Di tengah dominasi pelemahan, penurunan dorongan safe haven karena meredanya ketegangan geopolitik membuat mata uang Asia cenderung tertekan dan bergerak terbatas. Dolar AS meski sedikit menguat, tetap berada di jalur pelemahan mingguan ketiga berturut-turut.
CNBC INDONESIA RESEARCH [email protected]