Main Agenda: Pengamat: Negosiasi langsung Israel-Lebanon awal bangun kepercayaan

Analisis: Langkah Negosiasi Langsung Antara Israel dan Lebanon Sebagai Awal Membangun Kepercayaan

Jakarta – Andrea Abdul Rahman Azzqy, seorang ahli hubungan internasional, menilai bahwa rencana untuk menjalankan perundingan langsung antara Israel dan Lebanon menjadi langkah awal dalam upaya memperkuat kepercayaan di tengah ketegangan yang masih berlangsung. “Inisiatif ini, menurut banyak pihak di Barat, bisa dianggap sebagai bagian dari kebijakan penguatan kepercayaan atau CBM, memiliki makna penting,” jelas Andrea saat diwawancara pada Rabu (15/4).

Kedua negara tersebut belum memiliki hubungan diplomatik sejak lebih dari tiga dekade, menjadikan komunikasi langsung sebagai perkembangan baru. Proses ini juga terjadi ketika Israel sedang melakukan serangan di daerah selatan Lebanon sejak 2 Maret lalu. Namun, Andrea menyatakan bahwa tantangan terhadap kredibilitas perundingan masih signifikan.

Dalam wawancara tersebut, Andrea mengungkapkan adanya ketidaksesuaian antara komitmen diplomatik dan kondisi di lapangan. “Konflik yang memanas di wilayah Lebanon selatan menggambarkan kesenjangan antara penjanjian dan tindakan nyata,” katanya. Menurutnya, kepercayaan terhadap Israel cenderung rendah, sehingga menjadi penghalang utama bagi keberhasilan negosiasi.

“Israel selalu mengatakan setuju, tetapi tidak pernah menepati apa yang disepakati untuk dihentikan atau diselesaikan. Jadi kita, dalam hal ini, hampir tidak bisa mempercayainya sama sekali,” tutur Andrea.

Sementara itu, Andrea optimistis bahwa langkah ini bisa membuka jalan menuju perdamaian jika didukung mekanisme perlindungan bagi warga sipil dan jaminan deeskalasi yang nyata. “Kunci utama adalah adanya perlindungan rakyat sipil yang jelas serta deeskalasi aktual di lapangan. Tanpa itu, perundingan hanya bersifat simbolis,” tambahnya.

Sebelumnya, berita mengemukaan bahwa Amerika Serikat, Israel, dan Lebanon telah mencapai kesepakatan untuk memulai perundingan langsung setelah pertemuan tiga pihak di Washington, Selasa (14/4), seperti yang diumumkan oleh Departemen Luar Negeri AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *