Announced: Mendiktisaintek tekankan urgensi penguasaan teknologi untuk hilirisasi

Mendiktisaintek Tekankan Urgensi Penguasaan Teknologi untuk Hilirisasi

Jakarta – Dalam pembukaan Seminar dan Konvensi Nasional Badan Keahlian (BK) Teknik Pertambangan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) 2026, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menekankan peran kritis ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dalam mengubah Indonesia dari negara berbasis ekstraksi menjadi negara industri maju dengan nilai tambah tinggi. Acara tersebut berlangsung pada Kamis (16/4), di mana ia menyampaikan pandangan penting mengenai transformasi sektor pertambangan.

Transisi Energi dan Transportasi Listrik

Mendiktisaintek Brian menyoroti bahwa transisi energi dan pertumbuhan transportasi listrik kini lebih mendesak dibandingkan masa lalu. Menurutnya, potensi sumber daya alam Indonesia perlu dikembangkan menjadi kekuatan teknologi dan inovasi, sehingga bisa menjadi dasar bagi industri bernilai tambah tinggi. “Kita harus mampu mengubah sumber daya alam menjadi keuntungan bagi masyarakat, dengan memanfaatkannya melalui kemajuan iptek,” ujarnya.

“Satu hal yang sangat mendasar tentang kekayaan sumber daya alam adalah bahwa kita harus dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia. Dari sisi sumber daya, Indonesia adalah pemain utamanya, tetapi kita perlu buktikan bahwa kita bisa mengembangkan sumber daya tersebut dengan ilmu pengetahuan,”

Menyiasati Middle Technology Trap

Di samping itu, ia memperingatkan risiko middle technology trap, yaitu ketika suatu negara terjebak dalam penggunaan teknologi menengah tanpa mampu melompat ke tingkat lebih tinggi. Untuk menghindari ketergantungan teknologi asing, Brian menekankan pentingnya pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu menciptakan, menguji, dan mendorong inovasi berbasis sumber daya lokal.

“Saatnya bermimpi besar, kejar ketertinggalan kita menjadi negara maju. Kita harus tingkatkan lulusan yang berorientasi industri dan meningkatkan kolaborasi triple helix untuk memungkinkan lompatan kuat terjadi,”

Peran Pendidikan dan Kolaborasi

Komitmen Mendiktisaintek juga mencakup penguatan pendidikan tinggi, riset, dan inovasi sebagai fondasi transformasi sektor pertambangan. Ia menekankan bahwa kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah, dan industri menjadi kunci untuk mendorong hilirisasi. Selaras dengan pendapat Brian, Ketua BK Teknik Pertambangan PII Rizal Kasli mengatakan bahwa peningkatan kualitas pendidikan di bidang teknik pertambangan harus menjadi prioritas.

“Kita harus fokus pada kualitas pendidikan di bidang teknik pertambangan, untuk menyerap lebih banyak lagi lulusan mahasiswa tambang di lapangan kerja terkait. Yang belum memiliki izin praktik sebagai insinyur, kami dari BK sedang gencar sosialisasi terkait ini,”

Rizal menambahkan bahwa dukungan terhadap lulusan juga sangat penting untuk mewujudkan praktik pertambangan yang berkelanjutan. Kedua pihak sepakat bahwa inovasi dan peningkatan kapasitas SDM adalah langkah mutlak menuju ekonomi Indonesia yang lebih mandiri dan berkembang berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *