Solving Problems: JP Morgan sebut Indonesia tangguh hadapi guncangan harga energi global
JP Morgan: Indonesia Tahan Terhadap Guncangan Harga Energi Global
Jakarta – Laporan terbaru dari J.P. Morgan Asset & Wealth Management, yang berjudul “Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026”, menyebutkan bahwa Indonesia berada di posisi ketiga secara global dalam hal ketahanan terhadap volatilitas harga energi. Chairman Market and Investment Strategy perusahaan tersebut, Michael Cembalest, menekankan bahwa negara ini memiliki ketergantungan impor energi yang rendah dan daya tahan energi yang tinggi, sehingga tetap stabil meski menghadapi gejolak pasar internasional.
Dalam laporan tersebut, JPMorgan menganalisis 52 negara dengan konsumsi energi terbesar, yang secara keseluruhan mencakup 82 persen dari total konsumsi energi dunia. Berdasarkan indikator Total Protection Factor, yang menilai sejauh mana suatu negara terlindungi dari perubahan harga minyak dan gas, Indonesia berada di peringkat kedua, hanya kalah dari Afrika Selatan. Hal ini didasarkan pada fondasi energi domestik yang kuat, seperti produksi batu bara dan gas alam.
“Indonesia memiliki kapasitas produksi energi yang signifikan, mencapai sekitar 2.465 miliar meter kubik pada tahun 2024. Keberagaman sumber energi nasional, seperti tenaga air, panas bumi, dan biodiesel, juga memperkuat ketahanan sistem energinya,” tulis Michael Cembalest.
Laporan menyoroti bahwa kemampuan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan energi secara mandiri mencapai 77 persen, angka yang masuk dalam kategori tertinggi di dunia. Kontras dengan negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan, yang hampir sepenuhnya bergantung pada impor energi. Tantangan terbesar, menurut JPMorgan, meliputi penurunan produksi minyak domestik, ketergantungan pada dolar AS untuk pembayaran impor, serta risiko kenaikan subsidi energi jika harga global tetap tinggi.
Selain itu, JPMorgan juga mengungkapkan daftar negara yang paling rentan terhadap krisis energi global. Negara-negara seperti Italia, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Spanyol, dan Belanda dinilai lebih mudah terpengaruh oleh fluktuasi harga energi. Dengan demikian, meski Indonesia dianggap tangguh, pemerintah tetap perlu waspada terhadap ancaman yang mungkin muncul dari luar.