Latest Program: Wamentan nilai bongkar ratoon strategi pacu produksi gula nasional
Wamentan Sebut Peremajaan Tanaman Tebu sebagai Strategi Meningkatkan Produksi Gula Nasional
Jakarta – Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menyebut peremajaan tanaman tebu, atau bongkar ratoon, sebagai salah satu cara untuk mendorong peningkatan produksi gula dalam negeri. Dalam wawancara di Kompleks Parlemen Senayan, Selasa, ia menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan memperbaiki kualitas tanaman yang sudah mengalami penurunan produktivitas, lalu menggantinya dengan varietas baru yang lebih berkualitas.
“Bongkar ratoon penting karena memungkinkan penggunaan varietas unggul yang menghasilkan rendemen tinggi, serta memastikan pengeluaran optimal,” kata Sudaryono.
Dia menegaskan bahwa penggunaan bibit tebu yang lebih baik dapat meningkatkan hasil panen hingga 20-30 persen. Oleh karena itu, pemerintah kini mendorong implementasi bibit unggul dalam sektor pertanian untuk mencapai target swasembada gula. “Kalau Indonesia bisa meningkatkan rendemennya secara signifikan, itu bukan hanya mewujudkan swasembada gula, tetapi juga membantu menurunkan harga gula,” ujarnya.
Pengembangan Lahan Baru sebagai Pendukung Swasembada Gula
Selain bongkar ratoon, Sudaryono juga mengatakan bahwa pembukaan lahan pertanian baru menjadi langkah penting dalam mempercepat pencapaian swasembada gula. “Kita harus menemukan lahan yang sesuai dengan kondisi penduduk, tanpa merusak ekologi,” jelasnya.
Dukungan untuk Ekonomi Hijau melalui NEK
Dalam sisi lain, Sudaryono menyebut sektor pertanian tidak hanya berperan dalam produksi pangan, tetapi juga bisa menjadi bagian dari perekonomian hijau. “Pertanian mampu menyerap karbon, dan dengan jumlah petani serta luas lahan yang ada, sektor ini bisa menghasilkan kredit karbon global serta menarik investasi berkelanjutan,” katanya.
Kebijakan Adaptasi dan Mitigasi Iklim
Sudaryono menambahkan bahwa pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden No. 110 Tahun 2025, yang mengatur penerapan instrumen ekonomi karbon lintas sektor. “Adaptasi dan mitigasi adalah dua pendekatan utama menghadapi perubahan iklim, yang saling melengkapi dalam memperkuat ketahanan dan mengurangi emisi,” katanya.
Dia menjelaskan bahwa adaptasi fokus pada peningkatan daya tahan sektor pertanian terhadap dampak iklim. “Sementara mitigasi bertujuan mengurangi efek gas rumah kaca, meningkatkan penyerapan karbon, serta mendorong sektor agrikultur dan Forestry and Other Land Use (FOLU) menjadi net sink,” tambah Sudaryono.
“Ini adalah kondisi ketika suatu sektor atau ekosistem menyerap lebih banyak emisi gas rumah kaca daripada yang dilepaskan,” ujarnya menutup penjelasan.