Topics Covered: Kemenperin nilai preferensi konsumen beralih ke kendaraan hemat energi

Kemenperin nilai preferensi konsumen beralih ke kendaraan hemat energi

Di Jakarta, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan adanya pergeseran keinginan konsumen menuju kendaraan yang lebih hemat energi. Perubahan ini diduga menjadi dorongan kuat untuk meningkatkan pertumbuhan pasar kendaraan listrik (EV) di Indonesia.

Produksi dan Investasi

Berdasarkan data dari Kemenperin, saat ini terdapat 14 perusahaan yang memproduksi mobil listrik dengan kapasitas 409.860 unit per tahun. Jumlah ini diperbesar menjadi 68 perusahaan untuk sepeda motor listrik, yang mampu menghasilkan 2,51 juta unit per tahun. Selain itu, tercatat 9 perusahaan bus listrik dengan kapasitas 4.100 unit per tahun. Total investasi di sektor ini mencapai Rp25,67 triliun.

Populasi Kendaraan Listrik

Sampai Maret 2026, jumlah kendaraan listrik di Indonesia mencapai 358.205 unit. Rincian terdiri dari 236.451 unit sepeda motor listrik, 119.638 unit mobil penumpang listrik, 798 unit bus listrik, serta 537 unit kendaraan komersial listrik.

“Masyarakat mulai memilih kendaraan yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Ini menjadi sinyal positif bagi transformasi industri otomotif nasional,” tutur Setia Diarta, Direktur Jenderal ILMATE Kemenperin.

Pangsa Pasar dan Strategi

Pada 2025, persentase pasar kendaraan roda empat berbasis listrik mencapai 21,71 persen, terdiri dari 12,93 persen BEV, 8,13 persen HEV, dan 0,65 persen PHEV. Selama periode 2027–2029, batas minimal TKDN dinaikkan menjadi 60 persen, sementara target 80 persen diwacanakan mulai 2030.

Optimalisasi Komponen Lokal

Setia Diarta menekankan bahwa program optimalisasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) akan menjadi prioritas utama. Tujuannya adalah memastikan investasi di sektor EV memberikan dampak maksimal pada industri nasional.

“Kami ingin investasi EV tidak berhenti pada perakitan, tetapi terus berkembang menuju peningkatan struktur industri, termasuk baterai dan rantai pasok lokal,” tambahnya.

Perubahan Struktur Industri

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, mengatakan bahwa industri otomotif nasional tengah mengalami perubahan struktural. Dominasi satu jenis powertrain mulai tergantikan oleh variasi mode tenaga, seperti EV dan kendaraan hibrida.

“Buktinya, penjualan mobil konvensional terus menurun, sementara mobil elektrifikasi meningkat,” ujarnya.

Komitmen dan Rekomendasi

Head of PR dan Government BYD Indonesia, Luther T Panjaitan, menegaskan komitmen perusahaan untuk membangun ekosistem EV di tanah air, mulai dari produk hingga jaringan produksi. CEO Degree Synergy International, Andrea Suhendra, menyarankan pemerintah daerah menerapkan tarif pajak progresif bagi EV.

“EV dengan harga di atas Rp500 juta bisa dikenakan tarif tinggi, sedangkan di bawah Rp300 juta seharusnya dikenakan tarif rendah,” terang Andrea.

Dalam pandangan Andrea, PHEV juga perlu diberi ruang lebih luas sebagai alat transisi dari kendaraan bertenaga mesin pembakaran internal (ICE) ke EV. Mode listrik murni pada PHEV cocok untuk perjalanan kota, sementara mesin internal masih bisa digunakan untuk jarak jauh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *