Kasatgass PRR apresiasi kesigapan tim penanganan “sinkhole” di Aceh

Kasatgass PRR Berikan Apresiasi terhadap Upaya Penanganan “Sinkhole” di Aceh

Jakarta – Muhammad Tito Karnavian, Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) pasca-bencana Sumatera, memberikan penghargaan atas kegigihan tim yang menangani lubang raksasa di Aceh Tengah. Fenomena sinkhole ini muncul akibat longsoran geologi di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Dalam keterangan resmi dari Satgas PRR di Jakarta, pada Jumat, Tito juga menegaskan perlunya memastikan lubang tersebut tidak berkembang lebih luas, mengingat wilayah Aceh sedang dalam fase pemulihan pasca-bencana.

Pengamatan dan Pertanyaan Terkait Stabilitas Lubang

Dalam kunjungan lapangan, Tito Karnavian secara teliti mengobservasi laporan tim yang ditugaskan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tentang kondisi sekitar lubang raksasa. Ia mengajukan pertanyaan kepada anggota tim, seperti, “Apakah titik-titik pantau sudah stabil? Bagaimana cara mengatasi air yang terus mengalir ke lubang?”

“Apakah sudah cukup stabil (di beberapa titik pantau). Bagaimana mengatasi tidak turun terus airnya (ke lubang),” tanya Tito kepada tim di lapangan.

Langkah Tim untuk Mencegah Perluasan Longsoran

Setelah mendengar penjelasan yang menunjukkan kemajuan, Tito memberikan dukungan dan ucapan terima kasih kepada seluruh anggota tim yang berjuang mencegah longsoran agar tidak merusak lahan warga. Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Yusrizal Kurniwan, menyampaikan apresiasi atas perhatian Kasatgas PRR yang langsung memeriksa kondisi lubang dan progres penanganan.

Penyebab dan Solusi yang Diterapkan

Yusrizal menjelaskan bahwa longsoran geologi yang menyebabkan sinkhole terjadi karena serangkaian gempuran tanah. “Faktor utamanya adalah kondisi tanah berpasir,” kata Yusrizal di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Tim telah mengambil beberapa langkah untuk mengurangi risiko, seperti mengalihkan jalur jalan dan mengubah sistem irigasi ke area yang lebih stabil, agar air tidak terkonsentrasi di lubang.

“Selain itu, kami juga membuat (sumur) intercept. Tujuannya agar air yang jenuh di longsoran ini bisa dikeluarkan dan sekaligus nanti untuk membuat tata irigasi yang baru,” kata Yusrizal.

Dalam waktu dekat, Yusrizal optimis kondisi sekitar lubang akan lebih stabil, dengan hanya satu titik yang perlu dipantau dari lima titik sebelumnya. “Harapan kami adalah agar lubang bisa mencapai kestabilan permanen, sehingga masyarakat tidak lagi khawatir dan dapat melanjutkan bercocok tanam cabai dan kopi,” tambah Yusrizal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *