Special Plan: Pemerintah targetkan siswa Sekolah Rakyat capai 100 ribu di 2027
Pemerintah Perluas Cakupan Sekolah Rakyat dengan Target 100 Ribu Siswa Tahun 2027
Jakarta – Kementerian Sosial mengungkapkan rencana pemerintah untuk meluaskan program Sekolah Rakyat, dengan harapan jumlah peserta bisa meningkat pesat hingga melampaui 100 ribu siswa pada 2027. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyatakan bahwa di tahun ini, target jumlah peserta diperkirakan mencapai lebih dari 30 ribu siswa. Jika seluruh target tersebut tercapai, jumlah siswa pada akhir 2026 diperkirakan mencapai 46 ribu, berdasarkan peningkatan 15 ribu siswa dari tahun ajaran sebelumnya.
“Pemerintah terus mengembangkan jangkauan program Sekolah Rakyat. Tahun ini, kita menargetkan 30 ribu siswa, dan tahun depan akan meningkat menjadi lebih dari 100 ribu,” tutur Saifullah dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Program Sekolah Rakyat dijalankan sebagai upaya memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan ekstrem yang terdaftar di desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Menteri Saifullah menjelaskan, program ini bertujuan menjangkau anak-anak yang sudah putus sekolah atau berpotensi tinggi tidak melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.
Untuk mendukung pertumbuhan peserta, pemerintah sedang membangun gedung permanen di lebih dari 100 lokasi sepanjang tahun ini. Visi jangka panjangnya adalah setiap kabupaten dan kota memiliki minimal satu Sekolah Rakyat dengan kapasitas 1.000 siswa, mulai dari jenjang SD hingga SMA. Kementerian Sosial juga menegaskan bahwa seleksi siswa baru untuk tahun ajaran 2026/2027 telah dimulai seiring percepatan pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah.
“Persiapan untuk seleksi siswa baru dimulai Februari, mencakup jenjang SD, SMP, dan SMA,” ujarnya.
Menurut Saifullah, para siswa tidak hanya menerima pendidikan formal berbasis sistem manajemen pembelajaran (LMS), tetapi juga mendapat pembentukan karakter yang intensif melalui sistem berasrama. Ia menekankan bahwa hasil dari program ini mulai terlihat, seperti peningkatan kepercayaan diri, minat, dan tekad siswa dalam bidang tertentu, serta kesadaran mereka untuk memanfaatkan kesempatan yang diberikan.
Dengan pendekatan terpadu, program ini diharapkan membentuk generasi muda yang memiliki ilmu, budi pekerti, dan kemampuan intelektual. Saifullah menyatakan, hal ini menjadi bagian dari kebijakan prioritas arahan Presiden Prabowo Subianto dalam upaya mengubah nasib anak-anak dari latar belakang ekonomi rendah.