What Happened During: Sebanyak 6.000 armada bus disiapkan untuk angkut jamaah Indonesia
Penyelenggara Ibadah Haji Siapkan 6.000 Bus untuk Pengangkutan Jamaah Indonesia
Dalam persiapan musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi, PPIH Arab Saudi telah merencanakan sekitar 6.000 kendaraan bus untuk mengantarkan jamaah calon haji dari Indonesia. Kepala Seksi Transportasi Daerah Kerja Madinah, Achmad Muslih, mengungkapkan bahwa Kemenhaj sudah bekerja sama dengan 15 perusahaan transportasi. Sebagian besar armada bus yang digunakan dalam layanan transportasi untuk jamaah berupa tipe bus besar. “Ini adalah layanan antarkota perhajian. Tipe busnya Coach, kapasitas antara 45 hingga 51 penumpang. Namun, jumlah penumpang dibatasi,” jelas Achmad Muslih dalam wawancara di Jakarta, Selasa.
Struktur Pengangkutan Jamaah
Selama musim haji, pemerintah Indonesia biasanya menyediakan tiga kategori bus. Pertama, Bus Antarkota Perhajian (AKAP) yang mengangkut jamaah dari bandara ke hotel di Madinah atau Makkah. Kedua, layanan antar jemput di Makkah yang sebelumnya dikenal sebagai Bus Shalawat, yaitu pelayanan gratis 24 jam dari penginapan ke Masjidil Haram. Ketiga, Bus Masyair yang khusus untuk jamaah di lokasi puncak haji, seperti Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Proses Persiapan Sebelum Kedatangan Jamaah
Daerah Kerja Madinah mulai menyiapkan logistik sejak 22 April 2026, sebelum jamaah calon haji tiba. Petugas transportasi akan menyiapkan beberapa dokumen, termasuk form kedatangan yang mencantumkan jumlah jamaah, asal embarkasi, dan jumlah armada. “Selanjutnya, data masing-masing rombongan dituliskan, serta tugas transportasi yang mengelola catatan tersebut,” tambah Muslih.
“Karena jarak dari Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz (AMAA) ke hotel di Madinah hanya sekitar satu jam, komunikasi tek-tok dengan pihak bandara terutama untuk layanan transportasi akan dilakukan. Saat jamaah diberangkatkan, informasi langsung dikirim ke kami untuk memastikan persiapan yang memadai,” ucap Achmad Muslih.
Koordinasi untuk Jamaah yang Tertinggal
Lebih lanjut, PPIH juga mengantisipasi kemungkinan jamaah yang tertinggal di hotel atau lokasi tertentu. Jika terjadi, tim akan berkoordinasi dengan seksi akomodasi untuk mengatur penggunaan kendaraan tambahan, seperti operasional Daker atau minibus Coaster.