Facing Challenges: Psikolog: Sensitivitas sinyal diri butuh diperhatikan

Psikolog: Sensitivitas sinyal diri butuh diperhatikan

Jakarta – Dalam sebuah wawancara media di Jakarta pada Jumat, psikolog Indah Sundari Jayanti menekankan bahwa sensitivitas adalah indikator bahwa tubuh menginginkan perhatian. Dari sudut pandang psikologis, sensitivitas memiliki peran vital dalam cara seseorang mengolah pengalaman serta mempertahankan kesejahteraan secara menyeluruh. Menurutnya, sensitivitas tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik yang terlihat dari luar, tetapi juga mencakup aspek mental.

“Bicara sensitivitas, enggak boleh lupa bahwa diri kita itu terdiri dari fisik dan mental. Sensitivitas itu bukan hanya tentang kulit yang sensitif atau apa pun yang sensitif yang terlihat dari luar, tapi juga dari dalam,”

Indah menjelaskan bahwa ketika seseorang mengalami momen sensitif penuh tekanan, energi yang terkuras bisa melibatkan baik tubuh maupun pikiran. Contohnya, seseorang mungkin merasa tertekan meski berada di lingkungan ramai, hingga ingin menangis tanpa tahu penyebabnya. “Suka ngerasa lagi enggak ada apa-apa, biasa aja tapi kok rasanya kayak sendirian gitu di ruang ramai, tiba-tiba pengen nangis. Kalau itu terjadi artinya energi mental kita sedang ngasih warning sedang emotionally drained,”

Menurut Indah, sensitivitas bisa memicu gejala kecemasan berlebih atau anxiety. Dalam beberapa situasi, bahkan panic attack muncul secara mendadak meski orang tersebut sedang dalam kondisi normal. “Saya sering ketemu sama klien yang bilang lagi enggak ada apa-apa, tiba-tiba sesak napas, badan kaku, tangan gemetar, bawaannya pengen nangis padahal enggak tahu apa yang sedang terjadi. Itu artinya mental kita lagi berbicara, momen sensitivitas kita lagi ngasih sinyal ke kita,”

Impak pada self-esteem dan pandangan tubuh

Indah juga menyebutkan bahwa penurunan rasa percaya diri atau low self-esteem menjadi efek sensitivitas terhadap tubuh. Hal ini sering terjadi ketika seseorang tidak menerima validasi atas perasaannya dan justru menerima kritik dari sekitar. Dampak lain melibatkan negative body image, di mana seseorang mulai mengalami persepsi buruk terhadap tubuhnya. “‘Aku sih emang nggak cantik kayaknya, badan aku enggak bagus’. Kita tidak diterima momen sensitifnya. Stigma ‘jangan nangis, cengeng banget’ bisa memperparah perasaan itu,”

Langkah untuk mengakui dan mengelola sensitivitas

Menurut Indah, sensitivitas adalah bentuk alami dari tubuh memberi peringatan bahwa perlu diberi perhatian dan istirahat. Ini mengingatkan seseorang agar tidak terus memaksakan diri. “Jangan pendam itu semua sendirian karena emosi bukan untuk dipendam, tapi untuk dikendalikan, untuk diekspresikan selama tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Bangkit dimulai dari ketika kita berani mengakui bahwa saya sedang tidak baik-baik saja,”

Indah menyoroti bahwa sensitivitas adalah kekuatan, bukan kelemahan. Dalam penelitian, perempuan ditemukan memiliki kecerdasan emosional lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Mereka lebih mudah berempati serta memberi perhatian kepada siapa pun. “Ketika kita speak up, bisa menemukan diri kita sendiri, artinya kita sudah memanfaatkan safe space untuk diri kita. Women empowerment itu bukan cuman ‘semangat ya kak’, tapi ketika kita bisa saling menerima momen sensitivitas kita, untuk lebih paham diri sendiri,”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *