Psikolog sebut candaan tak nyaman sebagai indikator pelecehan seksual

Psikolog Sebut Candaan Tak Nyaman sebagai Indikator Pelecehan Seksual

Indikator Utama Pelecehan Seksual

Jakarta – Phoebe Ramadina, lulusan Universitas Indonesia dengan gelar M.Psi, Psikolog, mengungkapkan bahwa candaan yang menciptakan ketidaknyamanan harus diwaspadai sebagai tanda awal pelecehan seksual. Menurutnya, rasa tidak nyaman yang dialami korban adalah indikator kritis yang perlu diperhatikan, bahkan jika tindakan pelaku belum terlihat jelas sebagai bentuk pelecehan.

“Indikator utama dalam pelecehan seksual adalah ketidaknyamanan yang dirasakan korban, meskipun perilaku tersebut tidak langsung tampak sebagai tindakan menggoda secara kasat mata,” ujarnya kepada ANTARA, Kamis.

Mengenali Bentuk Pelecehan Dini

Phoebe menjelaskan bahwa pelecehan seksual di media sosial sering muncul dalam bentuk yang halus dan tersembunyi, sehingga mudah disalahartikan sebagai lelucon atau pujian. Banyak kali, saat korban merasa tidak nyaman, pelaku justru mengabaikan perasaan mereka dengan menyangkal, seperti mengatakan “hanya bercanda” atau “jangan dibawa perasaan”.

“Menyatakan ketidaknyamanan terhadap candaan yang mengarah pada pelecehan adalah langkah penting untuk mempertahankan batasan diri,” tambah Phoebe. “Namun, hal ini seringkali sulit dilakukan karena pelaku cenderung menganggap tindakan tersebut sebagai hal biasa.”

Langkah yang Bisa Diambil

Menurut Phoebe, kesadaran dini mengenai bentuk pelecehan seksual membantu seseorang membangun kemampuan mengatasi situasi tidak menyenangkan. Beberapa contoh tindakan pelecehan mencakup komentar mengenai tubuh atau penampilan dengan nuansa seksual, candaan yang berulang, atau pesan yang tiba-tiba membahas topik intim tanpa persetujuan.

“Kemampuan untuk menyuarakan kebutuhan dan batasan diri secara sehat berkaitan erat dengan asertif, yaitu keterampilan yang membantu korban mengambil langkah tegas,” jelasnya. “Ketika seseorang memiliki self-awareness yang baik, ia lebih peka terhadap tanda-tanda pelecehan dan lebih mampu melindungi diri.”

Phoebe menyarankan agar seseorang berani menyampaikan rasa tidak nyaman sejak awal dan aktif mengatur privasi di media sosial, seperti membatasi akses informasi pribadi atau interaksi dengan orang asing. Jika seseorang menyadari telah menjadi korban, ia sebaiknya segera memprioritaskan keamanan diri, menyimpan bukti interaksi, serta mencari bantuan dari pihak yang dapat dipercaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *