Special Plan: Perang Iran Makan Korban Baru: Penjualan Hermes Turun-Saham Anjlok

Perang Iran Makan Korban Baru: Penjualan Hermes Turun, Saham Anjlok

Jakarta – Pasar saham merek mewah global mengalami penurunan tajam setelah kinerja kuartal pertama 2026 menunjukkan penurunan di tengah konflik Timur Tengah yang menghantam permintaan. Hermes dan Kering menjadi dua perusahaan yang mengalami pelemahan signifikan, dengan Hermes turun 8,2% dan Kering mencatatkan penurunan 9,3%. Penurunan ini berdampak pada sektor lain, termasuk Burberry, Christian Dior, dan Moncler, yang juga ditutup dalam zona merah.

Kinerja Penjualan dan Ekspektasi Analis

Hermès melaporkan penjualan sebesar 4,1 miliar euro pada kuartal I-2026, naik 5,6% secara tahunan. Meski demikian, angka ini tidak mencapai proyeksi analis yang memperkirakan pertumbuhan 7,1%. Perusahaan menyebutkan perlambatan arus wisatawan akibat situasi di Timur Tengah sebagai faktor utama yang menghambat penjualan, terutama di toko bandara dan gerai konsesi.

Analisis dari Jefferies, James Grzinic, menunjukkan pelemahan saham Hermes mencerminkan dua kekhawatiran pasar: eksposur besar ke wilayah Timur Tengah dan melambatnya permintaan dari China.

Kinerja Kering dan Pengaruh Timur Tengah

Kering mencatat pendapatan sebesar 3,57 miliar euro pada kuartal pertama, turun 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini dominan terjadi di Timur Tengah, di mana penjualan ritel mengalami penurunan hingga 11%. Wilayah ini selama ini menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan industri barang mewah global.

CEO Kering, Luca de Meo, menegaskan bahwa pemulihan Gucci tetap menjadi fokus utama. Ia menyebut transformasi strategis sedang dijalankan, mulai dari cara menjangkau pelanggan hingga distribusi produk.

Analis Bernstein, Luca Solca, menilai hasil ini menjadi ujian realitas yang menunjukkan pemulihan bisnis tidak mudah seperti yang diprediksi pasar.

Geopolitik dan Dampak Global

Ketegangan geopolitik memperparah tekanan pada sektor barang mewah. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari meningkatkan krisis energi global dan mengganggu jalur Selat Hormuz. Hal ini menyebabkan pasar global terganggu dan meredupkan kepercayaan investor yang sebelumnya optimis tentang pemulihan permintaan tahun ini.

Beberapa Sinyal Positif

Di sisi lain, beberapa pasar menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Permintaan dari Amerika Serikat dan China mulai stabil, meski belum cukup kuat untuk menyeimbangkan tekanan global. LVMH, perusahaan besar industri, juga menyebut konflik Timur Tengah telah menggerus pertumbuhan organik sekitar 1% pada kuartal pertama. CFO LVMH, Cécile Cabanis, menyatakan permintaan sempat merosot hingga 30-70% di sejumlah pusat perbelanjaan sejak konflik memanas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *