Latest Program: Update Kapal Lewat Selat Hormuz, Trump Umumkan “Buka Permanen”
Update Aktivitas Kapal di Selat Hormuz, Trump Umumkan “Buka Permanen”
Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih memengaruhi jalur laut utama, meski beberapa kapal pengangkut minyak terpantau bergerak di Selat Hormuz. Data dari LSEG, yang mengutip CNBC International, menyebutkan bahwa sepanjang pekan ini, minimal sembilan kapal telah melewati zona strategis tersebut. Meski tidak pulih sepenuhnya, pergerakan ini menunjukkan bahwa pasokan energi belum terhenti sepenuhnya, namun dengan risiko tinggi.
Kondisi Lalu Lintas Kapal
Kapal besar seperti Very Large Crude Carrier (VLCC) RHN, yang mampu mengangkut 2 juta barel minyak mentah, terlihat memasuki Selat Hormuz dari Teluk Oman pada Rabu. Nilai muatannya mencapai sekitar US$160 juta atau setara Rp2,72 triliun jika dihitung dengan harga US$80 per barel. Satu hari sebelumnya, kapal Alicia juga melewati selat menuju Teluk Persia. Namun, jumlah total kapal yang bergerak pada hari tersebut masih terbatas.
Pada Selasa, data menunjukkan bahwa volume lalu lintas kapal turun hingga 90% dibandingkan kondisi normal di 27 Februari, sebelum serangan militer AS dan Israel ke Iran. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya ancaman keamanan, termasuk kemungkinan balasan dari Iran. Meski ada kesepakatan gencatan senjata pada 7 April, aktivitas laut belum pulih signifikan.
Kebijakan Trump dan Dampaknya
Di sisi lain, AS dilaporkan memperketat blokade maritim terhadap pelabuhan Iran setelah negosiasi damai gagal. Presiden Donald Trump menegaskan bahwa ia “membuka Selat Hormuz secara permanen” dalam pernyataannya, menegaskan langkah itu untuk kepentingan China dan dunia. Ia juga menyebut Beijing telah setuju “untuk tidak mengirim senjata ke Iran.”
“China sangat senang bahwa saya membuka Selat Hormuz secara permanen. Saya melakukan ini untuk mereka juga—dan untuk Dunia,” tulis Trump dalam unggahan Truth Social pada hari Rabu.
Bahkan, Trump menyatakan bahwa Presiden China Xi Jinping “akan memberi saya pelukan hangat ketika saya sampai di sana dalam beberapa minggu.” Sejak konflik Iran pecah setelah serangan ke Teheran oleh AS dan Israel, Trump kerap mengeluarkan sinyal berbeda. Saat ini, regulator bursa saham AS sedang menyelidiki transaksi aneh yang muncul sebelum pernyataannya tentang blokade tersebut.
Selat Hormuz, sebagai choke point energi paling kritis di dunia, mengalami gangguan yang disebut sebagai salah satu kekacauan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern. Sebelum konflik, sekitar 20% pasokan minyak global melewati jalur ini. Kondisi saat ini tetap memantau potensi krisis harga energi global jika gangguan terus berlangsung.