Meeting Results: Kaget Lihat Pabrik EV China, Bos Honda: “Kami Tak Punya Peluang”

Kaget Lihat Pabrik EV China, Bos Honda: “Kami Tak Punya Peluang”

Pada bulan Februari, CEO Honda Toshihiro Mibe mengunjungi fasilitas manufaktur kendaraan listrik (EV) di Tiongkok. Pengalaman ini membuatnya semakin yakin bahwa Honda kesulitan bersaing dalam industri otomotif global, terutama di bidang kendaraan listrik. Laporan SlashGear menunjukkan bahwa tingkat otomatisasi dan efisiensi di pabrik tersebut sangat mengesankan, melebihi harapan, sehingga memicu kekhawatiran Mibe tentang kemampuan perusahaan Jepang dalam mengejar ketertinggalan.

Transisi ke EV Terhambat oleh Kebijakan AS

Pertengahan 2025 menjadi momen kritis setelah kebijakan Amerika Serikat menghapus insentif pajak untuk kendaraan listrik. Perubahan ini berdampak signifikan, terutama bagi produsen otomotif seperti Ford dan General Motors, yang dilaporkan mengalami kerugian hingga miliaran dolar AS. Honda sendiri mencatat kerugian lebih dari US$15,7 miliar. Mibe mengakui bahwa kebijakan AS mungkin melambatkan proses transisi dari bahan bakar fosil ke energi listrik.

“Kami tidak memiliki peluang untuk menyaingi ini,” kata Mibe.

Dalam penjelasannya, ia menambahkan bahwa seluruh proses mulai dari pengadaan suku cadang hingga manajemen logistik di fasilitas Tiongkok sudah sepenuhnya otomatis. Produksi bahkan tidak melibatkan manusia di lantai pabrik. Komentar ini memperkuat kecemasannya terhadap perbandingan kemampuan Honda dengan produsen EV Tiongkok.

Reaksi Publik di Forum daring

Komunitas online seperti Reddit menjadi tempat berkembangnya keluhan konsumen terhadap dinamika pasar kendaraan listrik. Beberapa pengguna menyampaikan kekecewaan terhadap kebijakan AS yang dinilai menghambat adopsi EV. “Ini benar-benar menjengkelkan, bukan? Kita ingin mobil listrik, dan kalau produksinya bagus, permintaan pasti meningkat. Saya siap membeli mobil listrik,” tulis salah satu pengguna.

“Saya baru saja menukar Honda saya dengan mobil listrik Toyota yang baru. Saya sangat puas,” kata pengguna lain.

Beberapa komentar lain menyoroti masalah pasokan. “Orang Amerika tidak membeli mobil listrik jika tidak ada stok. Kepemimpinan Barat terlalu fokus pada keuntungan jangka pendek dan mengabaikan masa depan yang tak terhindarkan,” tulis salah satu anggota forum. Diskusi ini mengarah pada kesimpulan bahwa ketidakkonsistenan AS dalam transisi energi bisa menjadi beban ekonomi jangka panjang.

“Amerika semakin tertinggal. Jawabannya hanya melarang berbagai hal agar kelompok kaya bisa bertahan lebih lama,” tulis pengguna lain.

Dalam tengah tekanan global menuju elektrifikasi, siapnya kebijakan dan adaptasi industri menjadi faktor penentu apakah produsen otomotif Barat mampu menghadapi pertumbuhan pesat dari produsen Tiongkok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *