Key Strategy: Danantara ungkap progres proyek Kampung Haji di Makkah
Danantara Ungkap Progres Proyek Kampung Haji di Makkah
Jakarta – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mengungkapkan bahwa mereka masih menunggu kelanjutan hasil lelang tender lahan untuk pengembangan proyek Kampung Haji di Makkah, Arab Saudi. Chief Investment Officer (CIO) perusahaan tersebut, Pandu Sjahrir, menyebutkan bahwa proses finalisasi berjalan lebih lama dari jadwal karena situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. “Kami sedang menantikan pemberitahuan dari pemerintah Arab Saudi. Meskipun sudah mengajukan penawaran untuk beberapa lot, belum ada kabar pasti. Oleh karena itu, kami terus menjaga komunikasi aktif,” papar Pandu dalam acara Fitch Ratings Annual Indonesia Conference di Jakarta, Kamis.
Dinamika politik di kawasan Timur Tengah memengaruhi proses tersebut. Pandu menjelaskan bahwa pemerintah Arab Saudi saat ini lebih fokus pada stabilitas dan kepentingan pertahanan negara. “Mereka juga tengah menghadapi berbagai tantangan di wilayah mereka. Menurut saya, prioritas utama mereka saat ini adalah menjaga stabilitas dan keamanan. Mungkin itulah fokus utama mereka,” tambahnya.
Meski demikian, Danantara tetap memacu komunikasi dengan pihak Arab Saudi terkait lelang lahan tersebut. “Kami mengejar penyelesaian proses, tapi kami juga sadar bahwa kawasan ini sedang bergerak dinamis,” jelas Pandu. Di sisi lain, ia memastikan bahwa aset yang sudah dikuasai, yaitu hotel Novotel Thakher Makkah, telah siap digunakan oleh jamaah haji Indonesia mulai 2026. “Sudah bisa (digunakan). Ratingnya bagus, semua ngasih 5 bintang. Happy banget semua yang pakai di sana,” tutur Pandu.
Progres Awal dan Fasilitas yang Dikembangkan
Kawasan Thakher, yang menjadi fondasi awal pengembangan Kompleks Haji, telah menyediakan hotel Novotel Thakher Makkah dengan kapasitas sekitar 1.461 kamar di tiga menara. Selain itu, terdapat 4,4 hektare lahan strategis di koridor 2-3 kilometer dari Masjidil Haram. Pandu menjelaskan, pengembangan dilakukan secara bertahap dengan menitikberatkan pada aksesibilitas dan kesiapan infrastruktur. “Kawasan Thakher menjadi titik awal karena asetnya sudah siap. Kami juga masih terus memantau proses lelang RCMC untuk kawasan lain yang lebih dekat ke pusat aktivitas haji dan umrah,” ujarnya.
Proyek ini ditargetkan memasuki tahap groundbreaking pada 2026, dengan hotel tambahan direncanakan beroperasi sejak 2029. Pandu menegaskan bahwa pengembangan Kompleks Haji adalah bagian dari strategi jangka panjang, dengan pendekatan selektif dan berbasis analisis mendalam. “Fokus kami adalah memastikan setiap langkah diambil secara hati-hati, terukur, dan memberi manfaat berkelanjutan. Proyek ini kami bangun sebagai inisiatif strategis yang akan berdampak hingga generasi berikutnya,” jelasnya.
Ke depan, kawasan Thakher akan berkembang hingga mencapai kapasitas 6.000 kamar, dengan daya tampung sekitar 22.000 jamaah, atau 10 persen dari total jamaah haji Indonesia setiap tahun. Selain akomodasi, pengembangan juga mencakup ekosistem layanan terintegrasi, seperti fasilitas ritel, pendukung logistik, serta penunjang lainnya. “Tujuan kami adalah menciptakan lingkungan yang lebih lengkap dan nyaman bagi jamaah haji, mulai dari akomodasi hingga layanan pendampingan,” pungkas Pandu.
“Kami membangun kompleks haji secara bertahap. Kawasan Thakher menjadi fondasi awal, sementara kami juga masih mengikuti proses lelang RCMC untuk peluang kawasan lain yang lebih dekat dengan pusat aktivitas haji dan umrah,” ujar Pandu.