Studi: “People-pleasing” ganggu kesehatan mental dan kualitas hubungan
Studi: “People-pleasing” ganggu kesehatan mental dan kualitas hubungan
Mengutamakan kepuasan orang lain, atau “people-pleasing”, sering kali dianggap sebagai sikap yang baik. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan ini justru berdampak negatif pada kesehatan mental dan hubungan interpersonal. Laman Psychology Today melaporkan pada Rabu (22/4) bahwa kecenderungan mengatakan “ya” secara terus-menerus untuk menghindari konflik atau kesedihan orang lain dapat membentuk kebiasaan yang merugikan secara jangka panjang.
Menurut penelitian yang dipimpin oleh psikolog Emily Impett, mengorbankan kebutuhan emosional demi menyenangkan pasangan terbukti merugikan baik bagi individu maupun pasangan. Pola ini juga dikaitkan dengan penurunan kesejahteraan emosional. Dalam studi lanjutan, Impett menemukan bahwa pengorbanan yang berasal dari ketakutan akan konflik justru mengurangi kepuasan dalam hubungan, dibandingkan tindakan yang didorong oleh keinginan tulus.
Dana Jack mengungkapkan bahwa fenomena “self-silencing” atau menekan kebutuhan diri terkait erat dengan risiko depresi. Individu yang kesulitan menyampaikan kebutuhan saat menghadapi konflik memiliki tingkat kesehatan yang lebih rentan, termasuk potensi gangguan psikologis jangka panjang.
Temuan serupa ditemukan dalam penelitian yang dipublikasikan di PsyCH Journal pada 2025, yang menunjukkan hubungan antara kecenderungan people-pleasing dengan penurunan harga diri dan peningkatan neurotisisme. Di lingkungan kerja, kebiasaan ini juga membuat seseorang rentan menjadi korban manipulasi. Georgescu dan Bodislav (2025) menemukan bahwa orang yang sulit menolak permintaan cenderung kesulitan mempertahankan batasan profesional.
Studi oleh Romero-Canvas (2013) menyebutkan bahwa individu yang terlalu berusaha menyenangkan pasangan justru lebih rentan mengalami kemarahan atau kekecewaan setelah menghadapi penolakan. Para ahli menekankan bahwa solusi dari kebiasaan ini bukanlah menjadi egois, melainkan mempraktikkan kejujuran dan keseimbangan. Bantuan kepada orang lain tetap penting, asalkan didasari motivasi tulus, bukan tekanan atau ketakutan.