Topics Covered: Pemanfaatan teknologi 3D diperlukan untuk pemeliharaan cagar budaya

Pemanfaatan teknologi 3D diperlukan untuk pemeliharaan cagar budaya

Dalam diskusi revitalisasi keraton di ANTARA Heritage Center, Jakarta, Jumat, Deni Suwardhi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menyampaikan bahwa teknologi visualisasi tiga dimensi (3D) dapat digunakan untuk mempertahankan objek cagar budaya. Ia menekankan pentingnya teknik ini dalam menciptakan pemetaan yang akurat dan presisi, terutama mengingat risiko degradasi material yang semakin tinggi di daerah tropis.

“Bangunan dari bahan kayu atau batu bata rentan terhadap perubahan iklim dan lingkungan, sehingga teknologi 3D menjadi alat yang efektif untuk memantau serta menjaga keutuhan bangunan. Dokumentasi ini diperlukan agar kerusakan bisa diperkirakan lebih dini,” ujar Deni.

Teknologi 3D telah diterapkan di beberapa negara sebagai metode pengumpulan data yang detail. Dengan bantuan teknik ini, rekonstruksi bangunan cagar budaya bisa dilakukan secara cepat, mempertahankan bentuk aslinya. Pemodelan 3D bisa dilakukan melalui berbagai cara, seperti pemindai laser yang mampu mencatat struktur arsitektural atau alam secara efisien.

Selain itu, metode Building Information Modeling (BIM) juga mulai digunakan untuk merekam bangunan warisan secara digital. Deni menambahkan bahwa kamera ponsel pun bisa dimanfaatkan sebagai alat dokumentasi, dengan hasil yang bisa ditingkatkan menjadi model lebih kompleks. Ia juga mengusulkan penggunaan big data untuk menyatukan informasi dari berbagai sumber, termasuk data yang diunggah oleh wisatawan.

Denir menjelaskan bahwa teknologi 3D sangat berguna untuk analisis keruangan, sehingga bisa diaplikasikan dalam upaya menjaga keberlanjutan keraton Nusantara. Selain itu, teknik ini juga bisa dipakai untuk tujuan promosi, membuat objek budaya lebih mudah dikenal dan diakses oleh publik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *